Pemberlakukan MEA Dibayangi Penundaan

 

Pemberlakukan MEA Dibayangi Penundaan

Pemberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang direncanakan tahun depan, terancam ditunda. Itu lantaran banyak perusahaan yang masih meragukan terwujudnya integrasi antar negara-negara ASEAN

Mengutip laman CNBC, Jumat (10/10/2014), pada 2008, sebanyak 10 negara ASEAN termasuk Indonesia membuat kesepakatan untuk mendirikan MEA demi mencapai basis produksi dan pasar tunggal antar negara. Melalui MEA, perdagangan bebas dapat dilakukan antar negara ASEAN baik dalam bentuk, barang, investasi, jasa hingga tenaga kerja terampil mulai tahun depan.

“ASEAN tidak terlihat memiliki keinginan politis untuk mencapai level integrasi tersebut dalam waktu dekat. Masing-masing negara masih saling mengungguli dan integrasi secara economi masih belum menunjukkan kemajuan sejak formasi didirikan,” ungkap Senior Ekonom Credit Agricole Dariusz Kowalczyk.

Sejumlah perusahaan global juga tercatat skeptis menghadapi target negara-negara ASEAN dalam mewujudkan MEA. Dikonfirmasi apakah pemerintah negara-negara ASEAN akan secara aktif mendorong terwujudnya MEA, sebanyak 60 persen perusahaan asing tercatat meragukannya.

Dalam survei yang sama di Boston Consulting Group, sebanyak 10 persen perusahaan asing menyatakan MEA tidak akan terwujud tahun depan. Sementara itu, sebanyak 52 persen perusahaan AS menilai berbagai target MEA tidak dapat tercapai pada 2020 maupun tahun-tahun setelahnya.

“Keraguan itu tampaknya timbul karena laju integrasi yang sangat lamban, baru sekitar setengah dari seluruh perusahaan di ASEAN yang telah memiliki strategi berbasis target MEA,” ungkap Direktur Eksekutif American Malaysia Chamber of Commerce (AMCHAM), Anne Marie Brooks.

Sekadar informasi, tujuan utama MEA adalah mendirikan pasar dan basis produksi tunggal. Sejumlah tujuan lainnya, adalah menjadikan ASEAN sebagai pasar yang kompetitif dan ekonomis, memiliki perkembangan ekonomi yang setara dan terintegrasi secara utuh dengan perekonomian global. (lp6/ram)