Pembangunan Meningkat, Tenaga Ahli Lokal Justru Kesulitan Kerja

 

Pembangunan Meningkat, Tenaga Ahli Lokal Justru Kesulitan Kerja
(dari kiri) Firdaus HB, Rudiansyah, Kresnayana Yahya

Meski pertumbuhan pembangunan di Jawa Timur meningkat banyak tenaga ahli lokal justru kesulitan mencari kerja. Hal itu diungkapkan Kepala Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapensi) Surabaya Firdaus HB dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (8/8/2014).

“Banyak Sumber Daya Manusia (SDM) di Jatim yang punya skill tapi tidak ada legalitas maupun sertifikat yang diakui. Padahal semua perusahaan inginnya SDM mempunyai skill bagus berdasarkan kompetensi,” ungkap Firdaus.

Akibatnya, sambung Firdaus, banyak tenaga ahli lokal Jawa Timur yang kesulitan mencari pekerjaan di dalam provinsi. Mereka kemudian memilih untuk ke luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.

“Banyak tenaga ahli kita yang lari ke negara lain. Mereka cari kerja di negara lain karena di sana kompetensi mereka diperhitungkan secara legalitas,” bebernya.

Menurut Firdaus, di Jatim sendiri mempunyai tenaga ahli yang melimpah. “Di Jatim banyak tukang kayu, tukang batu, hingga insinyur yang hebat keahliannya. Tapi lantaran skill yang diperoleh otodidak, mereka kebanyakan tidak bersertifikasi,” tandasnya.

Dia juga mengatakan, pemerintah seharusnya melakukan mobilisasi untuk meningkatkan mutu tenaga ahli secara legalitas. “Pemerintah harus serius melakukan pelatihan kerja,” cetusnya.

Kata Firdaus, saat ini pemerintah daerah hanya mengedepankan program tanpa perencanaan matang. Akibatnya sering ia temui, pelatihan kerja yang tidak memiliki kompetensi secara profesional.

“Kalau semua yang ikut pelatihan diberikan sertifikat, dipastikan tidak ada persaingan profesionalisme tenaga kerja. Mereka hanya menghambur-hamburkan anggaran saja,” sesalnya.

Apalagi, imbuh Firdaus, Jawa Timur sekarang, khususnya Surabaya, tengah menghadapi persaingan jelang ASEAN Economic Comunity (AEC) pada 2015 mendatang. “Intinya harus ada uji kompetensi secara legal. Agar kredibilitas tenaga ahli kita diperhitungkan di mata internasional,” tegasnya.

Sementara itu, Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan, peluang investor asing dan tenaga ahli asing masuk ke Jawa Timur sangat besar.

“Kalau kita tidak mempersiapkan tenaga ahli kita secara matang, kita pasti kalah bersaing dengan tenaga ahli dari asing,” tutur dosen statistika ITS tersebut.

Dia lalu membeberkan, di Jawa Timur angka pertumbuhan pembangunan mengalami peningkatan 15 persen dalam setahun. Dari sektor perumahan saja meningkat 10 persen. Ini menempatkan Jatim sebagai provinsi yang mengalami pertumbuhan tertinggi dibanding Provinsi lain di Indonesia.

“Artinya kita juga harus mempersiapkan tenaga ahli agar bisa bersaing secara profesional,” tandasnya. (wh)