Pelukis Made Wianta Usung Dua Karya ke Surabaya

wianta1

Tingginya apresiasi kolektor di Surabaya terhadap karya beraliran modern-komtemporer membuat Made Wianta selalu kangen kembali ke Kota Pahlawan. Menyambung dua pameran yang pernah dia ikuti di Hyatt Hotel dan Emmitan Contemporary Art Gallery, kali ini Wianta memajang dua karya terbaiknya di Visma Arts & Design Gallery, Surabaya.

Pada pameran lukisan sekaligus pembukaan galeri itu, lukisan Made Wianta berjudul  Impression of Calligraphy menjadi ‘penyambut’ tamu. Lukisan berukuran 275 cm x 160 cm tersebut diletakkan tepat di belakang pintu masuk galeri. Menurut perupa kelahiran Tabanan, Bali, 1914 ini, Impression of Calligraphy adalah salah satu karya terbaiknya. “Lukisan ini saya buat tahun 1994, dan baru kali ini keluar dari sanggar saya. Sudah cukup lama saya tidak menyapa penikmat seni di Surabaya, pasti mereka juga ingin tahu karya Wianta sekarang seperti apa. Sebab, sebagai pelukis, setiap tahun karya saya pasti mengalami perubahan,” tutur Wianta, Sabtu (10/10/2015).

Lukisan kedua yang dibawanya ke Surabaya berjudul Calligraphy Dancing with Blue, berukuran 200 cm x 122 cm.  Selama ini Made Wianta memang membagi karyanya dalam beberapa periode, mulai Karangasem, Dot, Segiempat, Segitiga, Perakitan, Kaligrafi, Kalender hingga Periode Media Campuran. Kaligrafi Wianta memang tidak terbaca. Hanya saja bentuk huruf, pewarnaan maupun pembagian ruangnya begitu apik. Dan, menurut perupa yang telah belasan kali pameran di luar negeri ini, “Semua kaligrafi itu pasti ada meaning-nya. Kaligrafi saya menonjolkan keindahan, tapi beberapa orang China dan Jepang yang saya temui mengaku bisa membacanya kok,” sambungnya.

Surabaya, menurut Made Wianta, bisa menjadi pusat seni modern-kontemporer baru, menggantikan Jakarta yang disebutnya sudah terlalu sumpek. Kota ini memiliki sederet pelukis muda dengan kemampuan dan gairah seni yang hebat. “Saya yakin kemampuan mereka bakal terus berkembang, karena berbagai dukungan yang dibutuhkan ada di Kota Surabaya,” tegas pelukis yang Maret tahun depan diundang ke Taiwan guna memamerkan karya instalasinya ini.

Selain Made Wianta, pameran lukisan Dhaksa Rupa juga melibatkan sembilan perupa lain, yaitu I Gusti Nengah Nurata, Made Budhiana, Lucia Hartini, Sutjipto Adi, Asri Nugroho, Agung ‘Tato’ Suryanto, Bambang BP, Joko Pramono (Jopram), dan Tri Wahono. Teja Putra Lesmana, owner Visma Arts & Design Gallery, mengatakan pameran ini dihelat dalam rangka grand opening galeri yang terletak di kawasan Tegalsari tersebut.   “Makanya kita pilih tanggal 10, bulan 10, dan pesertanya 10 pelukis. Pemilihannya kita serahkan pada kurator, yang jelas mereka adalah seniman-seniman berbobot. Termasuk beberapa pelukis muda Surabaya yang telah meraih berbagai penghargaan,” kata Teja. Dia berharap bisa menggelar pameran secara rutin, paling tidak enam sampai delapan kali per tahun.

Di sisi lain, Teja ingin pelukis-pelukis muda Surabaya yang punya potensi diberi tempat terbaik sehingga mampu mengembangkan kemampuannya. Bila saat ini pameran hanya melibatkan pelukis dari Jawa dan Bali, kelak seniman dari seluruh pelosok negeri bakal dilibatkan. “Art kan tidak hanya lukisan, tapi bisa juga fotografi, patung, instalasi dan sebagainya. Tapi itu tadi, kualitas jadi pertimbangan utama,” tutupnya. (lin)