Pelni Surabaya Sosialisasi Sistem Operasi Pelabuhan

Pelni Surabaya Sosialisasi Sistem Operasi Pelabuhan

Pembangunan Terminal Penumpang Tanjung Perak dijadwalkan tuntas tahun  ini. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) kini sibuk melakukan sosialisasi sistem operasi pelabuhan layaknya bandara.

“Ada dua hal yang disiapkan. Sosialisasi pertama mengenai sistem operasi layaknya di bandara. Sosialisasi kedua tentang metode ticketing,” kata Manajer Usaha PT Pelni Cabang Surabaya, Ending Wahyudin, Senin (7/4/2014).

Untuk sistem operasi ini telah dibahas dengan PT Pelabuhan Indonesia  selaku penyedia jasa pelabuhan. Dimana semua barang bagasi penumpang yang melebihi batas maksimum 30 kg, wajib masuk bagasi. Sedangkan bagasi dibawah 30 kg diperbolehkan masuk ruang penumpang dan free of charge atau bebas biaya.

“Demikian juga dengan area ruang tunggu hanya penumpang yang bisa mengakses. Sehingga ruang tunggu dijamin tetap bersih danterlihat lapang. Tidak seperti saat ini,” papar dia.

Ke depan tidak ada lagi istilah over bagasi (OB) yang membahayakan pelayaran. OB telah dilarang kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak, dimana semua barang tidak masuk ke lambung kapal atau bagasi kapal, tetapi berada di ruang penumpang.

Dengan sendirinya pihak Pelni juga melakukan perubahan lay out (tata letak) kapal. “Untuk kapal type 1.000, hanya ruang istirahat kelas ekonomi yang kita ubah. Dimana kamar tidur kita bentuk bersusun. Sedangkan kapal besar tidak ada perubahan lay out,” terangnya.

Menyangkut metode ticketing, PT Pelni akan mnerapkan sistem operasi yang sudah diterapkan Belawan-Batam-Jakarta. Semua reservasi telah dilengkapi dengan barcode dan dilengkapi dengan departure control system (DCS/ kontrol penumpang disetiap terminal kedatangan).

Fungsi dari barcode dan DCS ini untuk menghindari penumpang terjebak pada percaloan. “Semua tiket Pelni yang kami jual baik melalui counter maupun online sudah dilengkapi dengan barcode dan DCS. Ke depan kami secepatnya sosialisasikan di Surabaya,” ungkapnya.

Ending mengakui untuk persiapan sosialisasi ini cukup lama dan mahal. Masalahnya investasi pembelian alat untuk membuat sistem barcode ticket yang dilengkapi dengan DCS cukup mahal. Kami tidak tahu seberapa mahal, itu menjadi tanggungjawab kantor Pelni pusat,” ungkapnya.

Sosialisasi ini akan dilakukan PT Pelni secepatnya. Diharapkan tuntasnya pembangunan terminal penumpang penerapan tiket ini sudah berjalan. Diperkirakan penggunaan terminal penumpang modern ini sudah bisa digunakan pada angkutan Lebaran 2014. (wh)