Pelindo III dan BKPM Bidik Pasar Investasi Australia

Pelindo III dan BKPM Bidik Pasar Investasi Australia

Secara geografis, Australia merupakan salah satu negara tetangga yang dekat dari Indonesia. Negara yang dikenal dengan sebutan Negeri Kanguru itu merupakan salah satu dari negara maju yang gencar melaksanakan outward investment, namun hanya sebagian kecil saja yang masuk ke Indonesia.

Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia hanya menempati posisi ketiga sebagai tujuan investasi Australia, di bawah Singapura dan Malaysia. Dengan adanya potensi nilai investasi yang cukup besar tersebut, pemerintahan Presiden Joko Widodo melakukan berbagai upaya untuk menjaring minat dan menarik investasi pelaku usaha Australia agar masuk ke Indonesia, salah satunya dengan menggelar forum bisnis antar kedua negara.

Seperti kerja sama Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra dalam menyelenggarakan Indonesia-Australia Investment Forum di Melbourne dan Brisbane, awal Mei.

Tema yang diusung dalam kegiatan tersebut yaitu ‘Indonesia’s New Investment Policy: A Look at Investment Opportunities and Government Support in Developing the Industrial and Infrastructure Sectors’.

Direktur Teknik dan Teknologi Informasi Komunikasi Pelindo III, Husein Latief, turut hadir mempresentasikan pengembangan infrastruktur maritim untuk menarik investasi ke Indonesia.

Pada forum investasi tersebut, antusiasme para investor Australia cukup besar, tercatat lebih dari 100 pelaku usaha Negeri Kanguru yang bergerak di bidang pertanian, infrastruktur, kemaritiman, pariwisata, telekomunikasi dan perbankan hadir pada kesempatan tersebut.

Dengan fokus pada sektor maritim dan turisme, pemerintah Indonesia, melalui BKPM, berupaya menarik investasi pelaku usaha Australia.

Dalam paparannya, Husein Latief mengakatan, bahwa Pelindo III saat ini telah menyiapkan berbagai infrastruktur guna mendukung kelancaran arus barang dari Australia.

Jika dilihat dari sisi geografis, pelabuhan-pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo III lebih dekat dengan Australia. Hal ini menyebabkan biaya pengiriman barang akan jauh lebih murah dibandingkan jika harus melalui Tanjung Priok di Jakarta.

“Pelindo III terus berupaya untuk meningkatkan layanan kepada para pelanggannya, salah satu caranya adalah dengan menyediakan peralatan dan sistem yang mutakhir”, tegasnya.

Guna menarik investasi Australia masuk ke Indonesia, Pelindo III memiliki proyek yang cukup ambisius, yakni menciptakan kawasan industri terintegrasi dengan pelabuhan yang disebut Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.

Dengan pembangunan kawasan tersebut akan memperlancar arus keluar masuk barang ke Indonesia. Di samping itu Pelindo III juga memiliki Terminal Teluk Lamong yang merupakan pelabuhan semi-otomatis pertama di Indonesia. Terminal Teluk Lamong adalah 100% karya anak bangsa Indonesia.

“Peralatan yang canggih dan ramah lingkungan yang tersedia di Terminal Teluk Lamong menjadi daya tarik bagi para investor, terlebih lagi sistem yang digunakan berasal dari RBS yang merupakan salah satu perusahaan asal Australia, seharusnya pelaku usaha Australia tidak perlu khawatir untuk menggunakan infrastruktur yang disediakan oleh Pelindo III”, imbuhnya menjabarkan.

Franky Sibarani, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan, bahwa saat ini pemerintah terus melaksanakan perbaikan sistem dan iklim investasi di Indonesia.

“Salah satu bentuk reformasi sistem yakni dengan memberikan kemudahan bagi para investor dalam mengurus perizinan. BKPM bekerjasama dengan kementerian terkait untuk mempermudah perizinan investasi di Indonesia. Sebelumya pengurusan izin investasi di Indonesia memakan waktu yang lama, namun saat ini hanya membutuhkan waktu tiga jam saja,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Indonesia untuk Australia, Nadjib Riphat Koesoema, menyatakan kesiapan perwakilan Republik Indonesia di Australia untuk menyebarluaskan informasi tentang kemudahan dan perbaikan layanan investasi yang telah dikerjakan oleh pemerintah Indonesia. “Forum bisnis ini adalah salah satu jembatan antara kedua negara untuk meningkatkan kerjasama khususnya dalam bidang perekonomian”, urai Nadjib.

Sebagai catatan, angka realisasi investasi triwulan pertama tahun 2016 dari Australia tercatat sebesar 59,98 juta dollar Amerika Serikat.

Ke depannya kegiatan forum bisnis yang sama akan terus dilakukan oleh BKPM dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, dengan harapan semakin banyak investasi Australia yang masuk ke Indonesia.

Dengan meningkatnya nilai investasi khususnya dari Australia yang masuk ke Indonesia, diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi pembangunan dan pertumbuhan perekonomian Indonesia. (wh)