Pelaku UKM Perlu Bentuk Asosiasi Hadapi MEA

Pelaku UKM Perlu Bentuk Asosiasi Hadapi MEA
Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, saat menjadi Narasumber Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (24/7/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Pebisnis sukses kebanyakan mengawali usahanya dengan menjadi pedagang kecil. Ketika telah sukses mengembangkan usahanya, kebanyakan mereka akan membuat sebuah asosiasi.

“Dengan membentuk asosiasli mereka dapat menentukan standardisasi produk yang akan mereka hasilkan,” ujar Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya dalam Perspektive Dialoguedi Radio Suara Surabaya, Jumat (24/7/2015).

Ia lalu menjelaskan, adanya standarisasi itu sangat dibutuhkan, termasuk bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM). Dengan standardisasi yang telah terukur bagi produk yang mereka hasilkan, secara tidak langsung hal tersebut juga menambah nilai ekonomi bagi para pelaku UKM tersebut

Kara Kresnayana, asosiasi berperan sebagai pengikat usaha-usaha yang berskala kecil yang biasa dikenal dengan UKM. “Keberadaan asosiasi sekaligus berfungsi sebagai kekuatan yang memiliki nilai tawar di arena perekonomian makro,” papar dosen Statistika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) itu.

Ia mencontohkan di Kampung Lontong Surabaya yang  menjadi moda baru bagi perekonomian Indonesia untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada Desember 2015 mendatang.

Lontong adalah makanan yang terbuat dari balutan daun pisang dan berbahan dasar beras ini biasanya menjadi pelengkap berbagai macam makanan khas Nusantara. Contohnya, tahu campur, rujak cingur, lontong balap dan sate.

“Saat ini, keberadaan Kampung Lontong sangat diperlukan di Kota Surabaya. Bagaimana tidak, karena hampir semua makanan khas Surabaya membutuhkan lontong. Semua pasar tradisional di Surabaya telah menjual lontong produksi Kampung Lontong,” ungkap Kresnayana.

Kampung Lontong yang terletak di Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan ini, merupakan penghasil lontong terbesar di Kota Pahlawan. Awalnya, Kampung Lontong terbentuk dari kumpulan pembuat lontong yang tidak terkoodinir. Hingga 2005, terbentuk lah sebuah paguyuban di tingkat RT dan RW yang diberi naman Paguyuban Lontong Mandiri (PLM). Saat ini, PLM memiliki anggota 76 pedagang. Pedagang – pedagang tersebut tersebar di 3 RW yang ada daerah Kupang Krajan, Surabaya. (wh)