Pelaku Industri Keluhkan Stimulus Pemerintah Atasi Dampak Covid-19

Pelaku Industri Keluhkan Stimulus Pemerintah Atasi Dampak Covid-19

Ari Indarwanto.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pandemi Covid19 membuat beberapa sektor ekonomi di Jatim tidak berjakan optimal. Namun keadaan sekarang tidak membuat dunia industri menyusut tajam.

Hal itu ditegaskan Kepala Biro Industri Hasil Laut Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim Ari Indarwanto dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (22/5/2020).

Kata dia, ada dua faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Pertama, kebutuhan Lebaran. Masyarakat membutuhkan beberapa produk, terutama bahan pokok.

“Namun, yang menjadi tantangan pasca Lebaran. Lalu, untuk dunia ekspor dan impor sendiri, hambatan yang dialami karena aturan negara yang ketat. Di antaranya memperketat aturan barang masuk serta keluar dan lain sebagainya,” tandas Ari.

Kedua, sambung dia, pada Juni dan Juli, diperkirakan ada perubahan kebijakan beberapa negara tujuan ekspor Indonesia. Di antaranya China dan Eropa yang telah mulai membuka diri.

“Pengaruh pandemi Covid19 ini sangat besar bagi ekspor dan impor. Lockdown di beberapa negara tujuan ekspor Indonesia sangat menghambat kegiatan kami. Terlebih di Indonesia saat ini sedang musim panen. Bahan makanan dan bahan alam. Para pelaku usaha saat inu masih wait and see,” ujar Ari.

Di sisi lain, kata Ari, pemerintah telah berupaya memberikan stimulus dengan berbagai macam program dan kebijakan. Namun, hal ini malah membingungkan pelaku usaha.

Ari lalu memberikan contoh industri garmen. Stimulus pemerintah yang diberlakukan adalah pelaku usaha garmen bisa memproduksi Alat Pelindung Diri (APD).

“Kenyataannya, setelah stimulus ini diberlakukan, peraturan ini bertentangan dengan peraturan kementerian perdagangan, pemerintah kesehatan dan lain sebagainya. Terkait izin edar dan lain sebagainya. Kami sangat menghargai kebijakan pemerintah. Namun hal-hal semacam inilah membuat kami kebingungan. Mungkin hal semacam ini harus dibenahi pemerintah,” papar Ari.

Terlebih, imbuh dia, dengan kebijakan PSBB, pelaku usaha dan industri makin berhati-hati melakukan kegiatan produksi. Karena bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, imbasnya sangat fatal. Sampai-sampai perusahaan tersebut bisa ditutup.

“Protokol kesehatan yang ada dalam PSBB ini benar-benar harus kita kerjakan. Jika terjadi apa-apa, perusahaan akan ditutup. Kita akan rugi. Karyawan juga terkena imbasnya. Maka dari itu, saat ini banyak pelaku usaha dan industri berhati-hati dan wait and see,” urai Ari.

Untuk saat ini, menurut Ari, pihaknya optimistis pada semester kedua tahun 2020, ekspor dab impor, perdagangan dan industri bakal meningkat. Di antaranya mulai dibukanya beberapa negara tujuan ekspor impor Indonesia. Salah satunya China.

“Saat ini, kami sudah mulai kirim beberapa hasil alam, di antaranya hasil olahan laut ke China. Terkait volume memang masih jauh dibandingkan sebelum pandemi. Namun, dengan ini kami optimis, terutama dunia ekspor impor dapat meningkat,” ulas Ari. (wh)