Pejuang atau Pecundang?

swandono art1

*Suwandono (mr.swand@yahoo.co.id)

 

Seorang sahabat menyatakan berniat alih profesi dari pegawai menjadi wirausahawan. Ia  menemui saya untuk curhat karena terserang virus bimbang. Meski amat paham bila profesi wirausahawan memiliki peluang terbesar untuk mewujudkan cita-cita hidup sejahtera, tetap saja virus itu menyusup dalam benak. Ia ragu atas keputusannya alih profesi karena dihantui bayang-bayang kegagalan. Ia takut struktur finansial keluarganya morat-marit karena tidak lagi ditopang pendapatan rutin dari gaji sebagai pegawai.

Keraguan dan ketakutan itu bukan monopoli sahabat saya saja, akan tetapi dialami banyak orang. Akibatnya, tak sedikit yang akhirnya membatalkan niat alih profesi. Namun, banyak pula yang berhasil mengubah ketakutan itu menjadi bahan bakar semangat yang luar biasa.

Ketika sahabat saya itu menamatkan curhatnya, saya mengajaknya diskusi tentang hakekat perjuangan. Lho, apa hubungannya alih profesi dengan perjuangan? Hubungannya amat erat, karena tujuan alih profesi adalah untuk meningkatkan penghasilan yang berujung pada kesejahteraan keluarga. Nah, untuk mewujudkannya diperlukan perjuangan yang tidak mudah. Tak berbeda dengan perjuangan merebut kemerdekaan yang dilakukan para pejuang zaman dulu. Jika hanya mementingkan keselamatan diri dan keluarga tanpa peduli tercapainya tujuan merdeka, maka orang akan mengambil langkah aman, hidup dengan penuh keterbatasan asal tetap kumpul keluarga.

Bila keputusan macam itu yang diambil, kecil kemungkinan akan tertembus peluru penjajah, karena tidak perlu berperang, hidup nerimo apa adanya saja. Namun, cita-cita merdeka juga tidak mungkin tercapai. Bila ingin tujuan merdeka bisa diwujudkan, harus angkat senjata berjuang melawan penjajah sampai kemerdekaan bisa diraih meskipun ada resiko terbunuh.

Para pejuang kemerdekaan amat sadar resikonya. Mereka memilih mengambil resiko itu karena kesadaran untuk memaksimalkan anugerah umur dari Tuhan. Mereka tidak ingin umurnya habis sia-sia tanpa memperjuangkan tujuan mulia. Kalau toh harus mati, mereka tidak menyesal gugur dalam berjuang, mati sebagai pahlawan. Dari pada tetap hidup sebagai pecundang dalam kungkungan penjajah.

Pilihan hidup sebagai pejuang identik dengan kasus sahabat saya itu. Pilihannya adalah menjadi pejuang untuk mencapai tujuan merdeka (keluarga hidup sejahtera) atau menjadi pecundang dalam kungkungan penjajah (hidup pas-pasan sebagai pegawai biasa-biasa saja).

“Apakah kamu hanya membiarkan derajat keluargamu seperti itu saja karena kamu tidak punya nyali berjuang?” Saya melepas tanya untuk untuk membakar semangatnya.

Ucapan itu berhasil memantik fighting spirit sahabat saya itu. Bisa jadi ia merasa terpojok dengan pertanyaan saya. Meskipun bekerja di perusahaan percetakan skala nasional, ia mengaku peluang hidup sejahtera amat kecil, bahkan mendekati nol bila dikaitkan dengan strata kepegawaian serta sisa masa kerjanya yang tinggal sepuluh tahun. Mungkin ia tak ingin menjadi laki-laki pengecut yang membiarkan derajat kesejahteraan keluarganya hanya begitu-begitu saja, ia ingin memaksimalkan sisa umurnya untuk berjuang meraih kemerdekaan finansial keluarganya.

Bagaimana agar terhindar dari resiko buruk? Tak ubahnya pejuang kemerdekaan, jika hanya bermodal semangat tanpa disertai pengetahuan tehnik perang yang cukup, sama saja dengan bunuh diri. Sebagai pejuang pemula, haruslah banyak menggunakan mata dan telinga untuk menimba ilmu dari pejuang yang sudah berpengalaman.

Baik pejuang yang telah sukses bertempur maupun yang terpaksa kehilangan kaki. Dalam urusan wirausaha pun berlaku rumus yang sama. Saat ini amat banyak media untuk belajar bisnis. Asal ada niat belajar dan punya keyakinan sukses, amat mudah memperoleh pengetahuan kewirausahaan. Amat mudah pula memulai bisnis meskipun tanpa modal capital.

Yang sulit adalah mengalahkan ketakutan diri sendiri. Banyak orang tak sadar telah membiarkan derajat kesejahteraan keluarganya terjerembab hanya karena tidak punya nyali berjuang. Sebenarnya, mereka tak sadar telah menjadi pecundang, menyerah sebelum benar-benar berjuang hingga maksimal. Golongan orang macam itu akan sibuk mencari pembenaran keadaannya. Garis nasib dan pengaturan rejeki dari Tuhan yang dibungkus konsep bersyukur adalah pembenaran yang paling sering mereka pinjam.

Setelah berbincang panjang lebar, sahabat saya itu bersumpah akan menjadi pejuang untuk keluarganya, ia akan menggali potensi diri serta bertekad belajar wirausaha dengan sungguh-sungguh. Ia juga mengaku malu selama ini mengklaim diri berjuang demi keluarga hanya karena telah menyerahkan gajinya. Padahal, nominal gaji yang tidak seberapa itu jelas-jelas tidak mungkin bisa mensejahterakan keluarganya. Ia sadar hanya berjuang mengajak anak isterinya tiarap tanpa ada peluang merdeka secara finansial.

“Sebelum memulai usaha, saya akan bicara dengan anak isteri bahwa pilihan alih profesi ini bertujuan mengangkat derajat kesejahteraan keluarga, agar mereka memahami semua konsekwensinya. Jika harus gagal, saya tidak malu dan menyesal dengan keputusan ini. Semua saya artikan sebagai bagian dari perjuangan, saya akan terus berjuang sampai tujuan itu tercapai. Saya tidak ingin hidup saya tidak memiliki arti,” ucap sahabat saya menutup perbincangan kami.(wh)