Pegiat Sejarah Tanggapi Rencana Pembuatan Museum Majapahit

Pegiat Sejarah Tanggapi Rencana Pembuatan Museum Majapahit

Museum Trowulan.foto: museumnusantara.com

Wacana pembuatan museum baru bernama Museum Majapahit di Jawa Timur mendapat respons dari kalangan pegiat sejarah. Salah satunya, Nanang Purwono dari Begandring Soerabaya.

“Apa bedanya museum baru tersebut dengan Museum Trowulan yang menyajikan artefak peninggalan Majapahit,” katanya.

Menurut dia, pertanyaan tersebut adalah fundamen sebagai dasar berdirinya museum baru yang setidaknya agar tidak tumpang tindih dengan Museum Trowulan.

“Justru saya berpendapat bahwa agar museum yang digagas ini bisa merepresentasikan khazanah sejarah masa lalu Jawa Timur yang lebih membanggakan,” paparnya.

Kata dia, sejarah Majapahit sudah sangat membanggakan bagi Jawa Timur. Tapi jika ada yang bisa lebih sangat membanggakan, mengapa tidak? Yaitu, museum yang membingkai ragam kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur.

Jadi, museum yang mulai digagas ini tidak sekadar yang menyajikan peninggalan Kerajaan Majapahit, tapi mempersembahkan kerajaan-kerajaan lain di Jawa Timur.

Nanang menjelaskan, Kerajaan Majapahit tidak satu satunya kerajaan di Jawa Timur, tapi masih ada kerajaan lain yang patut dibanggaan.  Siapa yang tidak kenal Sang Maha Patih Gajah Mada? Namanya sudah tersohor se-Nusantara. Beliau adalah maha patih dari Kerajaan Majapahit.

“Kita sebagai warga tentu sangat bangga pernah memiliki tokoh besar yang berasal dari Jawa Timur (Kerajaan Majapahit),” katanya.

Tapi, apakah Gajah Mada satu satunya tokoh besar dari Jawa Timur? Tidak. Masih ada tokoh besar dan berpengaruh lain. Ada Raja Airlangga. Ibu kota Jawa Timur, aitu Surabaya, namanya dipakai sebagai nama sebuah perguruan tinggi negeri, Universitas Airlangga (Unair).

Raja Airlangga adalah raja besar dari Jawa Timur yang kala itu memimpin Kerajaan Kahuripan. Ketika nama Kerajaan Kahuripan masih berjaya (1019-1045), wilayah kekuasaannya seluas Jawa Timur dan bahkan hingga ke sebagian besar Jawa Tengah. Ibu Kota Kerajaan Kahuripan tersebut di Jenggala, Sidoarjo.

 Pegiat Sejarah Tanggapi Rencana Pembuatan Museum Majapahit
Nanang Purwono. foto:ist

Airlangga sesunguhnya lahir di Bali pada 1000 dan meninggal di Jawa (Belahan) pada 1049. Ia adalah pendiri kerajaan Kahuripan yang bergelar Abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa yang memerintah tahun 1019 – 1045.

Sebagai seorang raja, ia memerintahkan Mpu Kanwa untuk menggubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam suatu peperangan.

Di akhir masa pemerintahannya, Kerajaan Kahuripan dibelah dua menjadi Kerajaan Kadiri (Panjalu) dan Kerajaan Janggala, yang masing masing untuk kedua putranya.

“Nama Airlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat. Bahkan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia,” cetus Nanang.

Berikutnya setelah suksesi Kerajaan Kahuripan, muncul Kerajaan Kadiri (Panjalu) yang beribukota di Dhaha (1045-1222) dan Kerajaan Jenggala (1045-1136) yang beribukota di Kahuripan (Sidoarjo).

Belum lagi suksesor berikutnya pasca Kadiri (1045-1222), yaitu Kerajaan Singasari (1222-1292) dengan raja terakhirnya, Raja Kertanegara yang memerintah mulai 1268-1292.

Siapakah Raja Kertanegara jika dikaitkan dengan Nusantara? Dia adalah sosok yang memperkenalkan konsep wawasan Nusantara yang dikenal dengan perluasan Cakrawala Mandala. Gagasan perluasan Cakrawala Mandala tidak hanya meliputi Jawa tapi hingga ke wilayah Dwipantara.

Pada 1275 Raja Kertanegara mengirimkan ekspedisi Pamalayu untuk mengalahkan tanah Malaya. Sayang gagasan itu belum sempat terwujud karena Ia wafat (1292) ditangan Raja Jayakatwang (Kadiri).

Dikatakan Nanang, di era Kerajaan Majapahit, gagasan perluasan Cakrawala Mandala (wawasan Nusantara) oleh Kertanegara baru terwujud dengan adanya Sumpah Amukti palapa oleh sang Maha Patih Gajah Mada pada 1336 M.

Raja Kartanegara sebagai pencetus konsep wawasan Nusantara, secara fisik telah menandai dengan upayanya untuk mempersatukan dua wilayah yang bertikai (Panjalu dan Jenggala) dan secara non fisik tertandai dengan keyakinan yang dianutnya Shiwa Budha yang merupakan perpaduan agama Shiva dan agama Budha.

Simbol penyatuan keyakinan ini tertandai secara fisik pada Candi Jawi, di mana candi yang bersifat Hindu ini bermahkota yang bersifat Budha.  Simbol simbol itu tidak hanya bersifat lokal dan regional, tapi nasional.

“Maka berbanggalah bagi rakyat Jawa Timur yang memiliki sejarah yang berimplikasi nasional. Maka, ketika berbicara gagasan membuat museum, yang paling pas adalah museum yang bisa merepresentasikan kebesaran masa lalu Jawa Timur,” tutup dia. (wh)