Pegadaian Bantu Pertumbuhan UMKM

Pegadaian Bantu Pertumbuhan UMKM
(ki-ka) Pimpinan PT Pegadaian Jemursari Sri Sumaryani, Deputi Bisnis Surabaya PT Pegadaian I Hakim Setiawan, dan Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (5/6/2015). arya wiraraja/enciety.co

Peran pegadaian dinilai sangat besar dalam pertumbuhan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Surabaya, Jumat (5/6/2015).

“Beberapa testimoni yang saya terima, ada seseorang yang mengembangkan usaha busana muslim dengan jalan menggadaikan barang miliknya sebagai modal usaha. Nilainya kurang lebih Rp 300 juta. Usahanya kini sukses dan produknya telah merambah pasar Asia Tenggara,” ungkap Kresnayana.

Kresnayana lalu menjelaskan, jika kita tidak tahu bagaimana cara mengelola uang dengan baik, kita pasti bisa menginvestasikan uang tersebut dengan membeli logam mulia.

“Jika suatu saat mereka butuh dana segar, mereka dapat menggadaikan logam tersebut tanpa harus kehilangannya,” ujar dosen statistika ITS Surabaya itu.

Terkait kredit macet di asuransi, beber Kresnayana, secara general sampai Mei 2015, Non Performing Loan (NPL) Pegadaian jatuh di angka 7-8 persen. Angka tersebut dinilai relatif normal.

Sri Sumaryani, Pimpinan PT Pegadaian (Persero) cabang Jemursari Surabaya, mengungkapkan, nasabah pegadaian saat ini bukan hanya di daerah perkotaan, tapi juga daerah pedesaan. Kata dia, Pegadaian juga sangat diminati sebagai solusi jalan keluar kebutuhan akan ketersediaan dana segar (fresh money).

Saat ini, imbuh Sri, sedikitnya 60 persen petani di Indonesia mengunakan mekanisasi atau sarana prasarana yang menunjang mereka untuk bercocok tanam. Yakni dengan menggunakan alat-alat lebih modern seperti traktor dan alat pemanen padi yang operasionalnya menggunakan mesin.

Menurut dia, kebutuhan efisiensi proses produksi tersebut membuat petani di daerah mau tidak mau harus mengikutinya. Ini agar keuntungan yang mereka peroleh sebanding dengan proses produksi. “Hari ini, petani kita dituntut seefektif dan seefesien mungkin dalam mengelola lahan pertaniannya,” jelasnya..

Dengan hadirnya pegadaian, kata Sri, menjadi solusi yang ideal bagi kebutuhan para petani tersebut. “Dengan gratis biaya administrasi untuk 18 produk pegadaian, kami rasa itu sudah memberikan para petani selisih nominal yang pantas,” papar dia.

Sri juga menjelaskan, setelah ditelusuri nasabah lebih nyaman dengan program yang ditawarkan pegadaian ketimbang penerima jasa-jasa pegadaian liar yang sering kita jumpai di jalan.

Menurut Sri, pegadaian-pegadaian liar semacam itu tidak dilengkapi dengan asuransi bagi barang yang digadaikan. Ini menjadi PR besar bagi pemerintah pusat. Karena itu, pemerintah pusat wajib membatasinya dengan membuat payung hukum agar di kemudian hari tidak menjadi masalah.

Terkait Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet bagi para beberapa nasabah, Deputi Bisnis Surabaya PT Pegadaian I, Hakim Setiawan, mengungkapkan hingga akhir Mei 2015, mencatat sekitar 0,6 persen. (wh)