Pedagang Antarpulau Banjiri Pasar Batu Mulia Kayoon

Pedagang Antarpulau Banjiri Pasar Batu Mulia Kayoon
Pasar batu mulia Kayoon yang tak pernah sepi. arya wiraraja/enciety.co

Demam batu akik semakin menjadi di Kota Surabaya. Banyak dari mereka yang berjualan dan berbelanja batuk akik merupakan warga di luar daerah Kota Surabaya. Hal ini dapat dilihat di bibir Kalimas, tepatnya di belakang central Batu Mulia Kayoon Surabaya.

Kasiran, salah seorang pengurus paguyuban pedagang batu mulia Kayoon, mengungkapkan central batu akik di Kayoon sebenarnya sudah ada sejak tahun 1987.

“Fenomena demam batu akik ini secara tidak langsung mengangkat ekonomi rakyat kecil yang ada di Kayoon,” terang ketua RW 5 Kelurahan Embong Kaliasin Surabaya kepada enciety.co di central batu mulia Kayoon Surabaya, Rabu (24/6/2015).

Ia menegaskan, perputaran uang di cental batu mulia Kayoon rata-rata mencapai ratusan juta rupiah per hari. Dirinya mencontohkan, salah satu pedagang yang awalnya hanya membeli bongkahan batu dengan harga Rp 200 ribu.

“Setelah bongkahan diolah menjadi liontin, batu tersebut laku hingga Rp 45 juta,” jelasnya.

Ada sekitar lima puluh pedagang dari luar daerah Surabaya, sisanya berasal dari berbagai macam daerah. Kebanyakan pedagang dari luar pulau yang berdagang di tempat tersebut berasal dari Kalimantan, Sumatra, Papua dan Nusa Tenggara.

“Jumlah pedagang di tempat ini cenderung berimbang. Ada sekitar enam puluh lima pedagang yang asli dari Kota Surabaya,” terang Kasiran.

Tempat tersebut setiap harinya rata-rata didatangi sekitar lima ratus pecinta batu akik di Kota Surabaya maupun dari luar Kota Surabaya. “Pengunjungnya sudah dari seluruh daerah Jawa Timur. Bahkan ada wisatawan asing yang membeli batu akik di tempat ini,” paparnya, bangga.

Dia juga menjelaskan, ada  dua tipe pedagang batu di tempat itu. Pertama, pedagang yang memiliki stan resmi betukurannya 1,5 x 2 meter. Pedagang ini menjual olahan batu mulia yang telah jadi perhiasan, seperti liontin, cincin dan gelang.

“Harga barang yang dijual oleh pedagang ini relatif lebih mahal dari pedagang kaki lima (PKL) yang ada di sekitar pintu masuk,” imbuhnya.

Sedangkan pedagang yang kedua adalah PKL. Pedagang ini menjual batu yang belum diolah menjadi perhiasan. Batu yang dijual masih berupa batu bongkahan. “Rata-rata mereka menjual bongkahan tersebut Rp 20 ribuan,” terang dia. (wh)