Pebisnis Jasa Cargo Kesulitan Hadapi Perubahan Tarif

Pebisnis Jasa Kargo Kesulitan Hadapi Perubahan Tarif

Erisandri Mahendra, Ardito Soepomo, Ima Sumaryani. foto:arya wiraraja/enciety.co

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesia (ALFI) Juanda Ima Sumaryani, mengungkapkan, pelaku usaha yang membutuhkan jasa cargo sampai saat ini banyak yang kesulitan menghadapi perubahan tarif. Pasalnya, mulai September 2018 hingga Januari 2019, ada kenaikan tarif logistik yang dilakukan empat kali oleh pemerintah.

“Kami sudah konfirmasi kepada beberapa maskapai penerbangan. Kenaikan atau penyesuaian harga ini diakui bukan mencari keuntungan. Kebanyakan mereka hanya mencari BEP (Break Even Point) menutupi kekurangan tahun-tahun sebelumnya,” tegas Ima Sumaryani dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (8/2/2019).

Ima lalu mengatakan, sebelumnya pemerintah berjanji tidak akan menaikkan tari pada tahun 2019, seperti yang terjadi pada akhir dan awal tahun kemarin. Hal itu dikarena perekonomian makin stabil. Namun kenyataan berkata sebaliknya.

Meski begitu, Ima optimistis pada tahun 2019, bisnis logistik akan mengalami perkembangan peningkatan.

Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO) Jatim Ardito Soepomo mengatakan, makin tingginya harga cargo dan logistik saat ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

“Untuk sekarang, ya adanya seperti ini. Bagi mereka yang ingin mengirimkan barang yang harus bijak sampai ada perubahan kebijakan pemerintah yang mengatur hal tersebut,” paparnya.

Kata Ardito, jika dalam kurun beberapa waktu ke depan pemerintah tidak dapat merumuskan kebijakan, mau tidak mau sebagai pelaku usaha, bakal membuat berbagai langkah alternatif.

“Salah satunya kami bakal urunan untuk carter pesawat untuk single flight,” tandas Ardito.

Dia menambahlan, jika harga kargo dan logistik yang ditetapkan terlampau tinggi seperti sekarang, harusnya penyedia jasa atau maskapai penerbangan bisa lebih menjaga kualitas layanan.

“Sampai saat ini kualitas layanan belum ditingkatkan. Contohnya, jika kita mau kirim barang dari Surabaya ke Jakarta. Rumus pelayanan yang dipakai masih 313. Artinya, tiga jam sebelum berangkat barang sudah harus di bandara. Satu jam pengiriman, lalu begitu sampai di bandara tujuan. Barang baru bisa di ambil setelah tiga jam. Nah, mestinya pola seperti ini sudah bisa berubah dengan memotong waktu tunggu,” papar Ardito.(wh)