PE Surabaya: Batik Teyeng Siap Bersaing di Pasar ASEAN

PE Surabaya: Batik Teyeng Siap Bersaing di Pasar ASEAN
Nuyani mengusung Batik Teyeng dalam event Pahlawan Ekonomi Surabaya.

Banyak ketidaksengajaan dalam hidup akhirnya berbuah manis. Kejadian sehari-hari yang biasa kita lihat ujungnya malah menjadi inspirasi. Itulah yang dialami Firman Ashari dan Nuryani, anggota Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya. Pasangan suami istri ini sukses melahirkan Batik Teyeng yang cukup dikenal masyarakat.

“Suatu ketika saya melihat teman mereka sedang menjemur kain batiknya di kawat yang telah neyeng (karatan). Usai dijemur, terlihat batik temannya tersebut timbul bercak-bercak neyeng alias kotor terkena debu besi kawat,” kata Nuyani saat ditemui enciety.co di acara Road Show Pahlawan Ekonomi Surabaya di Kecamatan Benowo, pekan lalu

Menurut dia, bercak-bercak teyeng terlihat unik. Banyak goresan dan lekukan menggoda imaginasinya. Setelah berdiskusi, akhirnya Nurani dan suaminya mencobanya menuangkannya dalam motif batik miliknya.

Dia lalu menuturkan, proses batik neyeng ini sendiri sama dengan pembuatan batik lainnya. Mulai proses mencanting, mewarna, hingga diblok dan dilanjutkan menjemur.

Namun yang membedakan adalah bila usai diberi warna sebelum dijemur terlebih dahulu, kain tersebut diberi gram serbuk besi atau besi baut neyeng yang kecil-kecil.

“Dan proses penjemuran memakan waktu 12 jam. Harus nyemek-nyemek kainnya jadi tidak boleh basah bles,” terang Nuyani.

Menurut wanita berkerudung ini, warna dasar Batik Teyeng harus ada motif, tidak boleh kosong dan harus ada kesan neyengnya. “Dengan berkarat bila dijadikan motif pasti bagus. Filosofinya yaitu neyeng itu jelek, maka pemakai diharapkan tidak kotor seperti neyeng tersebut,” sambungnya.

Harga Batik Teyeng yang dilempar di pasaran Rp 250 ribu per potong. “Itu sudah sangat menjangkau daya beli masyarakat,” kata Nuyani.

Untuk lebih mengembangkan usaha dan memperbesar produksi batiknya, Nuyani dan suaminya merekrut ibu-ibu untuk belajar bersama di Balai RW IV, Kecamatan Benowo, Surabaya.

“Sudah ada dua belas orang yang belajar bersama kami setiap hari Rabu,” kata ibu yang beralamat di Wisma Tengger VI/ 33, Surabaya itu.

Lamat-lamat motif Batik Teyeng mulai dikenal publik. Lewat berbagai kegiatan ekspose dan pameran, salah satunya di Pahlawan Ekonomi Surabaya. Pada Juli 2014, kami mematenkan Batik Teyeng ini. Dia pun sangat berhasrat produknya bisa bersaing saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan pada 2015 nanti. (wh)