Pawai Budaya Peringati Haul ke-4 Gus Dur

Pawai Budaya Peringati Haul ke-4 Gus Dur
Tri Rismaharini dan KH Moch Na’im Ridwan di Pondok Pesantren Baitunna’im, Surabaya. artika farmita/ enciety.co

Empat tahun sudah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Namun nama besar dan jasa-jasanya masih dikenang. Sabtu (28/12/2013), 500 orang santri Pondok Pesantren Baitunna’im, Jl Kedung Pengkol, Surabaya  dan warga sekitar menjadi bagian dari pawai budaya dalam rangka Haul ke-4 Gus Dur.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini membuka pawai dengan sambutan yang memberikan apresiasi terhadap mantan Presiden RI itu. Risma mengaku dirinya masih berkerabat Gus Dur. Di matanya, beliau adalah sosok yang patut diteladani. “Kita semua tahu, Gus Dur mengajarkan bangsa ini nilai-nilai toleransi. Beliau adalah tokoh yang paling toleran,” kenangnya.

Kata Risma, toleransi harus dijunjung bangsa Indonesia. Sebab, negeri ini majemuk, terdiri dari berbagai suku dan budaya. Gus Dur menekankan toleransi agar Nusantara tidak terpecah belah. “Yang kaya jangan sombong, yang miskin jangan minder. Itu pesan yang saya ingat dari beliau,” tuturnya.

Terutama, sambung dia, ajaran toleransi antarumat beragama di muka bumi. “Menjaga kebersamaan serta meneladani apa yang sudah diajarkan Gus Dur, nanti insya Allah negeri ini akan damai dan sejahtera,” sambungnya.

Pawai budaya tersebut dimeriahkan atraksi barongsai, liang-liong, reog, hingga drum band. Pengasuh Pondok Pesantren Baitunna’im, KH Moch Na’im Ridwan mengisahkan, pawai ini bukan pawai biasa. Ia mendapat petunjuk dari almarhum Gus Dur untuk menyelenggarakan acara ini. “Bukan mimpi, tapi beliau mendatangi saya langsung. Setelah tiga kali hati dapat firasat, saya bikin haul ini,” ujarnya.

Selain pawai budaya, Sabtu (28/12/2013), Pondok Pesantren Baitunna’im menyuguhkan pergelaran wayang kulit bertajuk Turunnya Jimat Kalimosodo.(wh)