Pasca Lebaran, Harga Ayam dan Telur Melorot Drastis

Pasca Lebaran, Harga Ayam dan Telur Melorot Drastis

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim Budi Setiawan. “Selain permintaan yang mulai stabil, stok di pasaran juga melimpah. Dampaknya harga bakal melorot,” katanya.

Saat ini, rata-rata harga daging ayam sekitar Rp 27.900 per kg dan harga telur Rp 17.900 per kg. Diperkirakan, harga daging ayam bisa menyentuh Rp 25.000-26.000 per kg dan telur melorot jadi Rp 15.000-16.000 per kg

’’Kami perkirakan sejalan dengan turunnya permintaan kedua bahan pangan tersebut, harga pasca Lebaran lambat laun terus turun. Kalau turunnya terlampau drastis bisa menekan keuntungan peternak produsen,’’ ujarnya.

Turunnya harga tidak serta merta menguntungkan konsumen. Menurut Budi, peternak produsen harus mendapat perhatian ketika terjadi penurunan harga. Menurutnya, penurunan tersebut harus berada dalam batas wajar dengan memperhitungkan keuntungan peternak produsen. ’’Makanya kami akan mengambil langkah untuk mengatur agar demand dan suplai bisa seimbang,’’ jelas dia.

Salah satu alternatif solusi yang ditempuh ialah dengan mengirimkan kelebihan stok baik daging ayam maupun telur ke wilayah yang suplainya rendah. Selama ini, Jatim memang sudah mengirimkan sebagian produk hasil peternakan tersebut ke sejumlah wilayah seperti Jakarta dan kota-kota di Kalimantan dan Sulawesi.

’’Tapi ketika permintaan di Jatim kembali normal, sedangkan suplai justru bertambah, maka perlu solusi untuk meningkatkan volume yang dikirim keluar Jatim,’’ terangnya.

Oleh karena itu wajar kalau puasa dan Lebaran menjadi musim panen bagi para peternak produsen. Apalagi, harga juga cenderung naik meski tidak banyak. Budi menyebutkan, kenaikan harga daging ayam pada bulan juli dibandingkan bulan lalu hanya 2,6 persen. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan.

’’Secara keseluruhan, harga bahan pokok pada puasa dan Lebaran tahun ini tidak setinggi tahun lalu. Rata-rata kenaikan harga sekitar 0 sampai 2,5 persen. Jadi lima persen saja tidak sampai. Termasuk sayur mayur juga relatif stabil, bahkan sebagian cenderung turun seperti cabai dan kubis,’’ jelasnya. (wh)