Pasca Debat, Clinton Unggul 5 Poin Atas Trump

Pasca Debat, Clinton Unggul 5 Poin Atas Trump

 

Hillary Clinton mengungguli Donald Trump 5 basis poin dalam jajak pendapat calon presiden Amerika Serikat yang pertama pasca-debat pekan lalu. Jajak pendapat yang digelar oleh CNN/ORC tersebut, Clinton mendapat dukungan 47 persen, Trump 42 persen, Gary Johnson 7 persen, dan Jill Stein 2 persen.

Peningkatan dukungan atas Clinton terutama karena dia mampu merebut suara pemilih pria — yang semula memberi keunggulan telak bagi Trump — dari defisit 22 poin menjadi defisit lima poin, dan secara tajam mendapat peningkatan dari kategori pemilih independen dengan keunggulan 44 persen berbanding 37 persen untuk Trump.

Clinton juga berhasil mencuri dukungan dari kelompok yang paling besar mendukung Trump, yaitu warga kulit putih non-sarjana. Di kelompok ini Clinton sebelumnya tertinggal 44 poin, namun sekarang mampu memangkas gap menjadi 21 poin saja.

Sejumlah pertanyaan dalam jajak pendapat ini memang menyudutkan Trump. Misalnya, tigaperempat pemilih berpendapat bahwa Trump harus merilis retur pajaknya agar bisa dilihat publik. Yang punya pendapat ini termasuk 47 persen pendukung Trump sendiri.

Alasan Trump tidak merilis retur pajaknya menurut 57 persen responden karena dia “menyembunyikan sesuatu”, sementara 33 persen percaya pada omongan Trump bahwa dia tidak melakukan itu karena pajaknya sedang diaudit.

Selain itu, hampir sembilan dari 10 responden mengatakan membayar pajak merupakan kewajiban warga negara (civic duty), dan hanya 12 persen yang berpendapat bahwa pajak adalah beban tak perlu yang harus dihindari. Bahkan di antara para pendukung Trump sendiri, 79 persen mengatakan membayar pajak adalah civic duty.

Terhadap pertanyaan, siapa kandidat yang lebih tangguh menjadi presiden, 45 persen menjawab Clinton, 43 persen Trump. Awal September lalu, terhadap pertanyaan ini Trump unggul delapan poin.

Clinton juga makin dianggap memiliki temperamen yang pas sebagai presiden, unggul 27 poin atas Trump, atau meningkat dari keunggulan 20 poin di awal September.

Dia juga dinilai lebih siap menjadi presiden (unggul 22 poin), lebih bisa menangani masalah-masalah kelas menengah (+17), punya visi yang lebih jelas untuk masa depan Amerika (+7), dan lebih mampu mengemban tanggung jawab sebagai panglima tertinggi (+6). (bst)