Pasar Surabaya Makin Tinggi, Daya Beli Capai 47 Persen

Pasar Surabaya Makin Tinggi, Daya Beli Capai 47 Persen

Wali Kota Risma menghadiri Surabaya Great Expo 2019. foto: arya wiraraja/enciety.co

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menegaskan, tidak mungkin jika kesejahteraan masyarakat makin menurun. Buktinya, saat awal menjadi wali kota pada 2010, ia mencatat daya beli masyarakat Surabaya yang rendah, sekitar 34 persen, yang menengah 52 persen, dan tertinggi sekitar 13 persen.

“Ketika disurvei pada 2018 kemarin, daya beli masyarakat yang rendah tinggal 5,9 persen, yang menengah sekitar 46 persen dan yang tinggi meningkat 47 persen,” ungkap Wali Kota Risma saat membuka acara Surabaya Great Expo (SGE) 2019 di Exhibition Hall Grand City Surabaya, Kamis (15/8/2019).

Artinya, terang Risma, pelaku usaha kecil menengah Surabaya harus bisa masuk dalam pasar potensial menengah dan atas. Pasar tersebut punya permintaan produk dengan kualitas tinggi.

“Kita tidak bisa lagi bilang produk seperti ini bisa laku kok, kemarin. Kita tidak bisa bertahan jika hal itu jadi pemikiran kita. Karena pasarnya makin tinggi, maka grade barang yang diminta juga makin tinggi. Jadi karena itu, tolong kita tingkatkan pengetahuan dan kualitas produk kita,” tegas wali kota perempuan pertama di Surabaya itu.

Menurut Risma, tingginya daya beli masyarakat Kota Surabaya harus dapat diimbangi pelaku usaha dengan membuat produk yang kualitasnya sesuai kebutuhan pasar tersebut.

“Kalau kita tidak bisa mengimbangi atau memenuhi kebutuhan tersebut. Pasar ini akan mencari produk lain yang sesuai,” papar salah satu wali kota terbaik dunia itu.

Saat ini, imbuh Wali Kota Risma, Surabaya punya indeks investasi dan perdagangan tertinggi di Indonesia. Hal ini sangat dipengaruhi stabilitas politik dan keamanan suatu wilayah.

“Surabaya bisa mengalahkan Jakarta, Bandung, dan Semarang. Bahkan kemarin ada satu media yang mengatakan jika perkembangan ekonomi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh Surabaya,” ujar dia.

Kata Wali Kota Risma, pasar lokal punya banyak potensi jika digarap secara serius. Surabaya punya jumlah penduduk 3,3 juta jiwa, Jawa Timur 38 juta jiwa. Banyak permintaan pasar lokal yang belum tercukupi.

“Jika ini saja belum bisa memenuhi potensi ini, kenapa kita harus berpikir keluar untuk ekspor,” tegas Wali Kota Risma.

Menurut dia, banyak tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil menengah ketika memutuskan untuk ekspor. Di antaranya dari sisi kualitasnya.

“Saya tidak anti ekspor. Kalau kita ekspor dibutuhkan tenaga besar. Contohnya saja kualitas. Jangan sampai barang kita ditolak karena tidak memenuhi syarat, atau jangan-jangan syarat itu dibuat untuk membuat produk kita jatuh harganya,” terang Risma. (wh)