Pasar Home Brewer pada Konsumen Kopi Urban

Pasar Home Brewer pada Konsumen Kopi Urban

Dimas Pratama bersama Adi Taroepratjeka di sela pada workshop pengenalan manual brewing di MaxOne Hotel Tidar, Surabaya, beberapa pekan lalu. foto:dimas pratama/enciety

Kopi bukan barang baru. Namun di era informasi dan teknologi, sektor ini berdinamika dan semakin berwarna. Konsumen kopi urban pun menjadi tersegmen.

Sebagian muncul sebagai “home brewer”, kalangan yang mengaku bahwa pengalaman menikmati kopi tidak hanya saat meminum, tapi juga saat menyeduh. Kategori pelanggan ini cukup kritis dengan kualitas kopi. Sedangkan, segmen mayoritas, bisa disebut “sekadar peminum kopi”.

Lantas, seberapa besar pasar home brewer? Belum ada data akurat yang bisa menjelaskan. Setidaknya, toko peralatan kopi yang menyasar konsumen akhir bukan lagi dominasi Philocoffee (Jakarta) dan Otten Coffee (Medan). Pencarian kata kunci “V60 drip” di Bukalapak menghasilkan sekitar 230an penawaran produk dari berbagai retailer. Cukup meyakinkan bahwa home brewer berkembang saat ini.

Gurita Bisnis Kedai 27

Apakah berkembangnya segmen home brewer akan berdampak pada berkurangnya pengunjung kedai kopi? “Tidak. Ada kenikmatan yang tidak bisa didapatkan saat menyeduh sendiri di rumah. Kedai kopi memberikan pengalaman bersosialisasi. Manusia butuh bertemu dan berbincang satu sama lain. Itu ada di kedai kopi,” beber Adi Taroepratjeka pada workshop pengenalan manual brewing di MaxOne Hotel Tidar, Surabaya, beberapa pekan lalu.

Adi Taroepratjeka adalah satu dari puluhan penilai kualitas kopi berlisensi internasional (Licensed Q Grader) yang ada di Indonesia. Bukan sekedar Q Grader, Adi adalah Q Grader pertama di indonesia yang bergelar instruktur. Orang yang berlisensi untuk mengajarkan materi Q Grader kepada orang lain. Kabarnya, hanya ada sekitar 50 instruktur Q Grader di seluruh dunia.

Pasar Home Brewer pada Konsumen Kopi Urban
foto:dok. 5758 coffee lab

Segmen ini diyakini berkembang, namun skalanya belum massif. Ini karena belum mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan kedai kopi berkonsep manual brewing belakangan ini.

Sedangkan segmen “sekedar peminum kopi” yang merupakan kalangan mayoritas, meluncurkan kritik pedas terhadap manual brewing. “Bikin kopi kok lama? Bikin kopi kok ribet?” ungkap Widi Kamidi, pemilik angkringan Nongkrong Nong Lorong Surabaya.

Menikmati Slow Bar Coffee Toffee

“Rumitnya penyeduhan manual membuat jarak antara konsumen dengan kedai kopi. Hal ini perlu disikapi. Menciptakan inovasi penyeduhan yang lebih cepat dan simpel.” tambah beliau, yang merupakan salah satu eksekutif Pasukan Berani Ngopi. (wh)