Pasar Buah Lokal Meningkat 55 Persen

Pasar Buah Lokal Meningkat 55 Persen

Dalam tiga tahun terakhir ini pasar buah tropis (lokal) mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya, konsumsi buah tropis saat ini sudah hampir mencapai 3 ton perharinya dari total empat gerai yang dimiliki.

Direktur PT Hokky Nusajaya Amin Tandjungte kepada wartawan,Jumat (28/11/2014), mengatakan saat ini konsumsi buah tropis sudah mencapai 55-45 persen. Angka tersebut berdasarkan penjualan dari empat gerai yang dimiliki pengelola Hokky Buah di Surabaya.

“Kalau dihitung rata-rata pertumbuhan pertahunnya konsumsi buah tropis sudah mencapai 3 persen. Memang tidak terlalu besar, tetapi itu konsisten. Dan saat ini konsumsi buah tropis sudah melewati konsumsi buah impor,” kata pria kelahiran Medan itu.

Ada beberapa indikator yang menyebabkan kenaikan buah lokal. Petani Indonesia mampu mengubah buah musiman menjadi buah sepanjang musim. Faktor kedua tidak lepas dari selera dan rasa buah lokal yang lebih natural (alami) dibanding buah impor.

Hal ini yang mendorong Amin melakukan ekspansi dengan bekerjasama dengan petani agrobis di berbagai daerah. “Tetapi tidak semuanya. Kami sangat selektif, untuk menyesuaikan dengan pasar yang kami miliki. Hanya buah dengan kualitas dan packaging menarik yang kami ambil,” sebutnya.

Sedikitnya, sudah 13 petani besar di Jatim yang sudah digandeng sebagai penyuplai produk agrobis. Demikian juga dengan beberapa dareah seperti Jogjakarta (salak), Jepara (durian), Singaraja (durian montong), dan Medan (salak) turut menyuplai buah ke Surabaya.

Sengaja mengambil petani-petani besar, lantaranya pihaknya tidak terlalu tertarik dengan gabungan kelompok petani (gapoktan) atau koperasi. Menurutnya, hasil yang diproduksi gapoktan maupun koperasi tidak sesuai dengan pasar Hokky, lantaran penyuluhan dari pemerintah tidak tepat sasaran.

Selain memenuhi kebutuhan lokal, pihak Hokky Nusajaya juga melakukan ekspansi ke sejumlah daerah. Salah satunya pengiriman buah ke Medan melalui jalur darat seperti melon dan mangga.

“Kultur tanah di Medan tidak cocok untuk komoditi tertentu, dan membutuhkan pasokan dari Jawa,” tutupnya. (wh)