Pasar Buah Ditutup, Kawasan Koblen Dicanangkan AMC

Pasar Buah Ditutup, Kawasan Koblen Dicanangkan AMC
Kondisi Pasar Buah Koblen (PKB) terlihat sepi setelah Pemerintah Kota Surabaya tidak memberi izin para pedagang berjualan di tempat tersebut beberapa waktu yang lalu.

Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) untuk membubarkan Pasar Buah Koblen (PBK) karena tempat tersebut dicanangkan akan dibangun sarana park and ride Angkutan Massal Cepat (AMC) pada 2015 mendatang.

Ini diungkapkan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya AA. Gede Dwi Djajawardhana kepada enciety.co, Kamis (18/12/2014).

Dwi menjelaskan, sebenarnya jika mengacu Perda nomor 12 tahun 2014 terkait keberadaan Pasar Buah Koblen ditetapkan sebagai kawasan jasa dan perdagangan.

“Iya memang itu sudah sesuai dengan tata ruang dan diizinkan,” katanya saat ditemui seusai melaksanakan Green Building Awarness Awards di kantor Bappeko.

Menurutnya, keberadaan PBK tidak menjadi permasalahan. Tapi sesuai dengan RTRW Pemkot Surabaya, di kawasan tersebut tidak akan dicanangkan pasar. Karena tempat tersebut akan digunakan sebagai sarana penunjang AMC.

“Kalau sekarang dibuat pasar buah, sebenarnya tidak melanggar peruntukan. Tapi kita ada rencana lahan tersebut akan digunakan sebagai tempat pendukung Angkutan Massa Cepat (AMC),” jelasnya.

Pihaknya sendiri belum bisa memastikan pencangan pembangunan park and ride AMC tersebut akan dibangun kapan. Dwi juga menyerahkan kepada Wali Kota Surabay, Tri Rismaharini terkait pedagang buah yang sebelumnya menempati di kawasan PBK akan ditempatkan di mana. “Belum tahu itu, bukan kapasitas kami,” singkatnya.

Sementara itu sejumlah pedagang PBK yang masih terpantau berada di PBK mengeluh dengan sikap Pemkot Surabaya menutup pasar buah tersebut. Menurut pedagang kebijakan penutupan pasar telah mematikan mata pencahariannya sebagai seorang pedagang.

Salah satunya adalah Nur Khozin (37) yang menginginkan keadilan dari Wali Kota Surabaya. Bersama rekan-rekannya Khozin mengaku akan tetap bertahan di PBK. Menurutnya, para pedagang buah bisa bertempat di PBK dulu atas perintah dari Pemkot tapi sekarang dengan sewenang-wenang pedagang kemudian diusir.

“Saya nggak mau kalau di suruh pergi dari sini. Ini adalah mata pencarian kami. Karena di sini tempatnya strategis. Kalau disuruh pindah ke tempat lain belum tentu akan laris. Para pelanggan kami tahunya di sini,” tegasnya. (wh)