Pasar Akik Dadakan Bermunculan di Surabaya

Pasar Akik Dadakan Bermunculan di Surabaya
Para pemoles batu akik masih mengerjakan tugasnya hingga dinihari.

Demam batu akik dimanfaatkan oleh masyarakat untuk merubah profesinya agar dapat mengais rezeki. Bahkan, di beberapa sudut Kota Surabaya, dapat dengan mudah dijumpai pemoles batu alam dadakan.

Seperti yang nampak di Pasar Kupang yang biasanya dipenuhi dengan penjual burung ini. Mereka beralih profesi menjadi penjual dan pemoles batu alam menjadi akik.

Zaenal salah satu pemoles yang ditemui enciety.co, mengaku dirinya merubah pekerjaan dari penjual burung menjadi penjual batu alam ini.

Dia beserta dua saudaranya yang lain menempati sudut pasar Kupang untuk menanti pembeli batu alam yang akan dipoles menjadi batu akik.

“Saat ini, keuntungan menjadi penjual batu alam hingga dipoles menjadi batu akik lebih besar dibandingkan menjual burung,” kata Zaenal, Rabu (17/6/2015).

Dengan bermodalkan batu alam yang biasanya disetorkan oleh pengepul, Zaenal hanya membutuhkan alat Grenda, amplas dan batu hijau untuk mengkilapkan batu akik yang sudah jadi.

Per hari, dirinya mengaku mampu mengerjakan sepuluh pesanan memoles batu alam menjadi batu yang dikenakan di tangan tersebut. Untuk memoles batu alam menjadi akik ini sendiri, pembeli harus merogoh kocek Rp 30 ribu.

“Hanya butuh waktu 45 menit untuk memoles batu alam ini untuk dikenakan sesuai dengan pesanan. Bentuknya bisa kotak atau bulat telur. Harga tersebut beda dengan batu dan tempat cincinnya lho,” tuturnya.

Dengan kenyataan inilah, dirinya mampu menghasilkan uang Rp 200-250 ribu bersih per hari untuk diserahkan kepada keluarganya. (wh)