Panti Asuhan Islamadina Sukses Budidaya Jamur Tiram

Panti Asuhan Islamadina Sukses Budidaya Jamur Tiram
Farid Ansori dan Siti maisyaroh, marketing Griya Jamur Tiram saat mengikuti acara Road Show Pahlawan Ekonomi 2015 di Kecamatan Benowo, Surabaya , Jumat (10/7/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Pelaku usaha mikro menengah (UKM) yang digarap dalam inkubator bisnis Pahlawan Ekonomi Surabaya tak hanya perorangan. Ada juga lelompok ataupun komunitas juga tergabung di dalamnya.

Seperti anak-anak Panti Asuhan Islamadina Surabaya. Sejak tahun 2013 lalu, anak-anak yatim piatu di panti asuhan ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi. Dan, pada Februari 2014, mereka membangun unit usaha yang diberi nama Griya Jamur Tiram.

“UKM ini telah mengalami beberapa periode waktu yang diwarnai oleh kegagalan, hal tersebut kami rasa wajar, karena dari sana kami dapat berlatih secara otodidak di dalam dunia bisnis,” papar Farid Ansori, marketing Griya Jamur Tiram kepada enciety.co, saat mengikuti acara Road Show Pahlawan Ekonomi 2015 di Kecamatan Benowo, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Farid mengatakan, modal awal yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini sebesar Rp 15 juta. “Waktu itu, kami nekat dengan meminjam uang ke yayasan, awalnya memang banyak yang tidak dipercaya,” kenang dia.

Waktu normal yang dibutuhkan dalam proses penyemaian bibit hingga panen adalah dua minggu. “Kira-kira sebulan kami bisa dua kali panen,” terangnya.

Terhitung lima bulan sejak memulai usaha budi daya jamur tiram, pihaknya baru balik modal. Ia mengaku bahwa pihaknya telah empat kali mengalami kegagalan dalam budidaya jamur tiram.

“Kami sering gagal dalam hal pembudidayaan, banyak jamur yang sebelum dipanen sudah busuk. Dengan keteguhan hati dan usaha yang keras, kami mendapatkan bahwa suhu ruangan sangat mempengaruhi hasil panen,” paparnya.

Dia bercerita lebih jauh, media tanam yang kami pakai berupa baglog atau sejenis media tanam yang dibuat dari campuran geraji kayu. Kesulitan kami adalah menjaga suhu ruangan ketika perawatan tanaman,” ungkapnya.

Setiap kali panen selama dua minggu, usaha budidaya tersebut dapat menghasilkan 96 kilogram jamur tiram. “Per satu kilogramnya kami bandrol dengan harga Rp 50 ribu  hingga Rp 100 ribu,” tandasnya.

Saat ini pemasaran produk jamur tersebut masih di level market tradisional. “Saat ini pelanggan kami kebanyakan dari pesanan rumah makan dan usaha warung nasi yang ada di Kecamatan Benowo dan lingkungan Kota Surabaya saja,” tutur dia.

Farid menambahkan, usaha tersebut menggunakan bantuan dunia maya dalam pemasarannya. “Saat ini kami juga menggunakan bantuan media social seperti Facebook dan Twitter, cukup upload pelanggan akan memesan dengan menggunakan telepon,” terang dia.

Dirinya bertutur lebih lanjut, bahwa total omzet rata-rata setiap bulan yang didapat dari usaha budidaya tersebut mencapai Rp 3 juta. “Pemasukan tersebut bisa menjadi ber kali lipat ketika memasuki bulan Ramadan seperti sekarang ini,” tutupnya. (ram/wh)