Pandemi Covid-19, Sektor Pariwisata Paling Terpukul

Pandemi Covid-19, Sektor Pariwisata Paling Terpukul

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengungkapkan, saat ini Jawa Timur telah terjadi deflasi yang nilainya 0,01 persen. Namun, perlu diketahui, ada 7 kota di Jatim yang mengalami inflasi dan hanya 1 kota yang mengalami deflasi.

“Kota yang mengalami deflasi adalah Malang Raya. Namun, perlu diketahui, dalam 4 minggu di bulan Maret, seluruh mata rantai pariwisata mulai dari perhotelan, restoran dan lain sebagainya ini anjok hingga 0,41 persen. Sampai seolah efeknya bisa dirasakan di seluruh Jawa Timur,” ujar Kresnayana.

Kata dia, kota yang mengalami inflasi tertinggi adalah Jember dengan 0,34 persen. Ini diakibatkan panen raya yang saat ini terjadi di Jember. Inflasi Kota Surabaya tercatat 0,01 persen inflasi. Sedangkan Sumenep nilainya mencapai 0,09 persen. Untuk Probolinggo nilainya 0,04 persen, Banyuwangi 0,27 persen, Kediri 0,11 persen dan Madiun 0,19 persen.

“Perubahan harga secara signifikan belum terjadi. Namun dari sisi pariwisata, perubahan sangat terasa. Tidak ada kegiatan pariwisata. Bisa dibilang, sektor ini paling terpukul,” cetus dia.

Di saat yang sama, terang Kresnayana, ekspor dan impor Indonesia mengalami penurunan, namun jumlahnya tidak signifikan. Untuk ekspor nilainya sekitar 0,24 persen dengan total USD 1,99 miliar. Yang menjadi andalan ekspor adalah komoditas pertanian dengan nilai USD 131 juta. Sektor lain yang lebih moncer adalah industri pengolahan.

Kresnayana mengatakan, nilai pemasukan dari ekspor industri pengolahan sekitar USD 186 juta atau naik 12 persen dibanding tahun lalu. Sedangkan sektor yang terpukul adalah migas.

“Angka- angka ini menunjukkan jika sektor industri pengolahan dan pertanian masih berjalan, bekerja, dan tumbuh,” kupas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Untuk sektor impor, angkanya tumbuh hingga 11,7 persen. Komponen komoditas yang mempengaruhi adalah peralatan kesehatan. Di antaranya, masker, hand sanitizer, vitamin, dan lain sebagainya. Impor terbesar Indonesia masih bahan baku. Dari bulan ke bulan pertumbuhannya mencapai 11 persen. Selanjutnya, bahan konsumsi yang angkanya naik 74 persen.

“Hal ini menggambarkan masih sangat kurang bahan-bahan baku produk kesehatan. Hal positifnya adalah kejadian ini (pandemi Covid-19), memberikan peluang bagi industri produk yang dulunya tak pernah laku sekarang punya kesempatan lebih berkembang,” tegas dia. (wh)