Pameran Lukisan Pointilisme Klasik di Tunjungan Plaza

Pameran Lukisan Pointilisme Klasik di Tunjungan Plaza
Pelukis Rijaman saat pameran di Tunjungan Plaza Surabaya

Turut menyemarakkan Hari Jadi Kota Surabaya (HKJS) ke-722, pelukis pointilisme Rijaman menggelar pameran lukisan tunggal ke-17. Sebanyak 43 lukisan bertema “Pesona 3B, Bali-Bromo-Borobudur” dipamerkan di Tunjungan Plaza II lantai III.

Lukisan yang membawa aliran pointilisme klasik pada era digital modern yang dibuat dengan dengan cara membuat titik-titik kecil dengan menggunakan cat minyak atau akrilik hingga membentuk sebuah gambar.

Di Indonesia, tak banyak pelukis yang menggeluti aliran pointilisme. Tercatat hanya dua orang yang masih setia dengan pointilisme ini, yakni Rijaman di Surabaya dan Keo Budi Harijanto di Malang.Rijaman mengakui, pameran kali ini merupakan comeback exhibition-nya setelah lama tak menggelar karya.

Mengusung potret 3 wisata tersohor Indonesia, ia ingin membawa nuansa klasik ala pointilisme gunung Bromo, keindahan Bali, dan relief candi Borobudur.

“Di era digital sekarang, orang mengenal televisi, smartphone, internet, yang semuanya tersusun dari titik-titik. Saya ingin bawa titik-titik pointilisme di zaman modern,” katanya.

Selain itu, ia ingin mendekatkan seni lukis aliran pointilisme yang jarang digeluti tersebut. Mengutip George Seurat, maestro pointilisme asal Prancis, seorang pelukis dapat menggunakan warna untuk menciptakan harmoni dan emosi dalam seni.

“Sama seperti seorang musisi yang menggunakan titik-titik nada untuk membentuk harmonisasi dalam sebuah lagu,” ujar Rijaman.

Tema lukisan mengenai Bali, Bromo, dan Borobudur dipilih Rijaman guna menegaskan ke kancah dunia bahwa ketiga obyek wisata dan budaya ini adalah Indonesia. Jamak ditemui, wisatawan mancanegara mengira Bali, Bromo, dan Borobudur adalah ‘negara yang berdiri sendiri’.

“Padahal Bali itu Indonesia, bukan milik orang Bali saja. Begitu juga dengan Borobudur dan Bromo. Inilah pesona keindahan klasik yang perlu terus diperkenalkan,” katanya.

Rijaman sendiri mengenal aliran pointilisme secara tidak sengaja. Semula ia menekuni seni lukis aliran naturalisme. Namun tanpa disadari, ia menikmati ketukan kuas yang spontan ia goreskan pada lukisannya saat menimba ilmu di Pusat Pembinaan Pendidikan Kesenian Jawa Timur (PUSBINDIKNI) di Taman Budaya Surabaya tahun 1979. Pria berusia 59 tahun itu mengaku jatuh cinta pada keunikan aliran pointilisme.

“Kalau dilihat dari jarak tertentu yang agak jauh, akan terlihat secara naturalis sekali. Tapi kalau didekati akan terlihat kasar dan kabur,” tegasnya

Sejak saat itu, Rijaman makin mantap melukis dengan gaya pointilisme.  “Sejak tahun 1982, saya sudah berpameran tunggal sebanyak 16 kali dan pameran bersama sebanyak 20 kali,” jelasnya.

Mulai Taman Budaya Surabaya, Hotel Hyatt (sekarang hotel Bumi), hotel Garden Palace, Novotel, Pusat Kebudayaan Perancis CCCL (sekarang IFI Surabaya), hingga Tunjungan Plaza. Lukisannya telah dikoleksi para kolektor dan pecinta seni dalam dan luar negeri.

“Pesona 3B, Bali-Bromo-Borobudur” akan dipamerkan di Tunjungan Plaza II lantai 3 sejak 6 Mei hingga 31 Mei 2015.  (wh)