PAL Berhasil Bangun Gas Compressor Pertama

PAL Berhasil Bangun Gas Compressor Pertama

 

Keberhasilan dituai PT PAL Indonesia (Persero) dalam hal produksi. Perusahaan plat merah ini mampu menciptakan EPCI Gass Compressor yang kemarin sail out. Proyek ini menelan biaya USD 43 juta dan dikerjakan dalam kurun waktu 14 bulan.

EPCI Gass Compressor ini merupakan yang kedua diproduksi PT PAL Indonesia dari total 8 pesanan. Sebelumnya PT PA Indonesia sudah merilis jacket (penyangga gas rig lepas pantai) pada 15 Februari silam, untuk dikirim ke lepas pantai antara Jakarta dan Sumatra.

Direktur Produksi PT PAL Indonesia Edy Widarto pembangunan ini yang pertama dan merupakan keberhasilan tersendiri. “Ini meupakan proyek pertama kita dan berhasil kita kembangkan. Kedepan sudah menanti bebreapa proyek serupa dengan nilai investasi yang berbeda,” katanya, Senin (17/3/2014).

EPCI (engineering, procurement, construction, and installation) untuk proyek Banuwati-K Gas Platform yang dipesan perusahaan asal China, CNOOC Ses Ltd.

Edy menyebut pembangunan ini banyak hal yang perlu dilakukan, salah satunya suplai bahan baku. ”Sedikitnya ada 40 persen kita harus bergantung dari bahan import. Sementara kebijakan pemerintah, semuanya harus dioptimalisasi dengan produksi domestik,” tegasnya.

Salah satunya pipa yang harus dibeli dari luar negeri, sementara produksi dalam negeri belum ada. Keterlibatan PT PAL Indonesia hanya melakukan pengerjaan. Sedang proses instalasi dan operasional sepenuhnya dikerjakan pihak pemesan, COOEC Kelvin Chen. Edy menyebutkan kapasitas platform ini mampu menghasilkan total 3.000 ton liter.

Ke depan, PT PAL sudah memiliki proyek serupa. Di antaranya EPCI wellhead platform WHP A and sub sea pipe line Ujung Pangkah project development, fabrikasi wellhead platform Zelda milik CNOOC, KODECO Energy, dan Ameralda Hass.

Edy menjelaskan, proyek ini dikerjakan oleh divisi baru, General Engineering (GE). Divisi baru ini diharapkan bisa memberi kontribusi 30 persen dari total revenue perusahaan. Kurang lebihnya sama dengan divisi kapal perang, karena investasi yang dibutuhkan cukup besar. Sementara peluang yang kita dapatkan juga besar,” ujarnya. (wh)