Pakar Video Maker Indonesia Beri Pelatihan di Spazio

Pakar Video Maker Indonesia Beri Pelatihan di Spazio
Brand Ambassador YouTube Indonesia Dennis Adhiswara (kiri) bersama Ahli Game Show Video, Eno Bening berbagi tips kepada peserta Start Surabaya di Lantai 7 Spazio Surabaya, Senin (26/1/2015). avit hidayat/enciety.co

Pakar video maker Indonesia berkumpul untuk berbagi pengetahuan dengan anak-anak muda yang tergabung dalam Start Surabaya. Mereka dengan akan memberikan tips dan trik membuat video simple yang menarik.

Ketujuh video maker tersebut adalah Brand Ambassador YouTube Indonesia Dennis Adhiswara, Ahli Game Show Video dari Jakarta Eno Bening, Fashion and Make-Up Video dari Bandung, Citizen Jurnalism Video dari Bandung Ichiko, Komunitas Jotoku ahli film pendek dan series dari Jogjakarta, dan Stand Up Komedi Video dari Semarang Bacin.

“Kita mau kolaborasi buat video bareng di sini. Nantinya dari berbagai keahlian akan dikemas menjadi satu video yang ciamik dengan alur cerita yang ditentukan bersama. Ini untuk memberi pembelajaran kepada temen-temen Start Surabaya,” terang Dennis Adhiswara kepada enciety.co di lantai 7 Spazio Surabaya, Senin (26/1/2015).

Selain itu, para video maker ini akan memberikan pengetahuan kepada anak-anak SMA dan SMK di Surabaya bahwa membuat video tidak sesulit yang dipikirkan.

Seperti ditegaskan Ahli Game Show Video dari Jakarta, Eno Bening. Kata dia, membuat video itu sama halnya dengan menulis status di sosial media. “Bedanya kalo tweet dan update status di facebook kan pakai tulisan. Nah, ini kita update statusnya pakai video. Entah apapun itu videonya. Kalau ada ide bisa langsung dibuat tanpa menunggu banyak skenario,” jelas Eno.

Menurut dia, mindset bahwa membuat video harus film indie atau sebuah film harus dihilangkan. Sebab hal itu mengakibatkan kreativitas anak muda hanya bersifat musiman.

“Bisa dilihatkan kalau ada lomba festival film indie atau apa gitu, banyak sekali yang buat. Tapi kalau tidak ada, ya kreativitasnya terhenti,” tutur dia.

Karena itu, sambung Eno, perilaku ini harus diubah dengan prinsip berkarya dan terus berkarya. Seperti halnya Eno dan rekan-rekan sejawatnya yang selalu buat video-video lucu untuk dimasukkan ke YouTube.

“Saat ini, video lucu berdurasi 6 sampai 10 detik di Bandung sedang popular,” ujarnya.

Masih kata Eno, anak-anak muda di Surabaya juga bisa melakukannya. Dengan bekal niat, keuletan, dan semangat, semua akan terlihat mudah. Karena cara membuat video tidak membutuhkan modal uang.

“Intinya kreativitas dan kemauan aja. Misalnya lagi dijalan pengen buat video, ya langsung dibuat aja. Karena video tidak harus film, semuanya bisa dilakukan,” ujarnya.

Rencananya pada Rabu (28/1/2015) mendatang, Eno, Dennis, dan para ahli video maker lainnya akan melakukan pelatihan dan pembelajaran tentang tips dan trik membuat video. Baik itu video tentang fashion, jurnalisme yang saat ini digandrungi remaja, atau video lucu, semua akan dibahas bersama siswa SMA dan SMK di seluruh Surabaya.

“Intinya kami ingin memberi wawasan dan ngenalin, tentunya yang pasti kita pengen nyebarin ilmu. Karena tidak perlu modal untuk membuat ini. Sekarang ini istilahnya new media jadi jangan berpatokan lagi pada televisi. Karena kita bisa berkarya sendiri,” jelasnya. (wh)