Pakar Satwa Dunia: Semua Kebun Binatang Punya Masalah seperti KBS

 

Pakar Satwa Dunia: Semua Kebun Binatang Punya Masalah seperti KBS

Dua pakar satwa kelas dunia optimistis, manajemen baru Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang dibentuk pemerintah kota Surabaya, mampu membawa perbaikan.

Hal itu disampaikan oleh pakar satwa liar asal Afrika Selatan, Dave Morgan dan profesor ahli satwa dan peternakan asal Jerman, Julia Grafin Maltzan. Melalui perantara Konjen Amerika Serikat Surabaya, keduanya melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kesejahteraan satwa sejak Rabu (30/4/2014) hingga Kamis (1/5/2014).

“Kami ke sini sebagai perwakilan komunitas kebun binatang internasional terkait pemberitaan negatif di media di luar mengenai KBS. Kami perlu menekankan, bahwa permasalahan yang ada di KBS juga dimiliki oleh banyak kebun binatang lain di dunia,” ujar Dave Morgan usai bertemu dengan wali kota Surabaya, Tri Rismaharini di ruang kerjanya, Jumat (2/4/2014). Contoh permasalahan yang biasa ditemui ialah kebersihan kandang dan kinerja pekerja yang kurang optimal.

Dave mengakui upaya keras PD Taman Satwa KBS selaku manajemen baru, dalam mengubah sistem kebun binatang dan peningkatan kualitas pekerjanya. “Kami justru menyesalkan pencabutan penilaian dari kami (Wild Welfare, Red) pada saat periode transisi pengelolaan KBS,” tambahnya.

Meski mendengar pemberitaan negatif dari media internasional, Dave dan Julia amat kagum dengan kandang pertunjukan atau kandang luar. “Kandang pertunjukan monyet Proboscis dan siamang adalah yang terbaik yang pernah kami lihat,” ungkap Julia. Kandang dua spesies di KBS itu memungkinkan satwa mengekspresikan perilaku alaminya dan bergelantungan secara bebas di lingkungan yang menyenangkan.

Perkembangbiakan komodo, babi rusa, dan jalak Bali tak luput dari pujian. “Kami melihat KBS sangat berkomitmen mengembangbiakkan satwa-satwa endemik Indonesia yang dilindungi, seperti penetasan telur Komodo, burung Jalak Bali, dan Babi Rusa,” imbuhnya.

Keduanya lantas memberikan beberapa rekomendasi untuk perbaikan KBS. Perbaikan yang diidentifikasi sebagai kebutuhan yang mendesak antara lain adalah kandang istirahat alias nahok sejumlah satwa. “Ada sejumlah kasus di mana binatang dikurung dalam kandang tandus. Itu sangat membatasi gerakan fisik dan membahayakan kesejahteraan psikologis satwa. Contohnya beruang madu yang berada di karantina. Lalu kandang kucing besar, gajah, dan primata,” urai Dave.

Ia pun menyoroti pelanggaran pengunjung yang masih sering memberi makan kepada satwa. “Pengelola KBS sudah berusaha menyeimbangkan pakan dan diet secukupnya untuk memelihara kesehatan fisik satwa. Usaha ini bisa kacau jika masyarakat masih terbiasa melempar makanan,” tegasnya.

Rekomendasi dari dua pakar satwa dunia ini akan diberikan secara lengkap kepada Risma melalui email. “Kami berharap bisa menjadi bagian dari proses perbaikan KBS menuju kebun binatang yang profesional di jaringan internasional,” pungkasnya. (wh)