Pahami Potensi agar Produk Bisa Diterima Pasar

Pahami Potensi agar Produk Bisa Diterima Pasar

Luhur Budiarso beberkan rahasia menjual produk di depan ratusan pelaku Pahlawan Ekonomi di Kaza City, Minggu (15/5/2016). foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Membuat sebuah produk baru agar diterima pasar harus benar-benar memperhatikan beberapa aspek. Mulai dari membuat riset untuk mengetahui produk apa yang dibutuhkan dan diminati oleh masyarakat, hingga memperhatikan produk tersebut harus berkualitas sebelum dilempar ke pasar.

“Untuk memahami produk yang dihasilkan agar dapat diterima pasar harus dipelajari. Mulailah menggali guna mengetahui apa saja yang disukai oleh masyarakat,” kata senior consultant enciety business consult, Luhur Budiarso kepada ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Pahlawan Ekonomi, Minggu (15/5/2016).

Dia menuturkan, bila perlu, ibu-ibu yang akan membuat barang baru harus memahami keinginan konsumen dengan melakukan riset dan menulisnya.

Ia mencontohkan, pelaku UKM Pahlawan Ekonomi bisa mendatangi komunitas anak muda dan komunitasnya. Disana ditanyakan untuk menggali kesukaan terhadap barang yang mereka sukai.

“Kalau perlu ditulis, contohnya buat riset bahwa anak muda ternyata sukanya coklat berbentuk hati dengan harga sekian. Sedangkan bila survei kepada anak umur 12 tahun, mereka jarang suka coklat karena ingin diet agar tidak diejak temannya. Maka ibu sekalian sudah memahami apakah produk yang akan dibuat diterima pasar atau tidak dari dua umur ini. Pahami pasar mereka dengan mengajak atau mencoba duduk disana,” jlentrehnya.

Selain itu juga, Luhur mengatakan bahwa ibu-ibu PE tidak boleh terlalu pelit untuk mengasihkan tester atau contoh gratis. Dan perhatikan bila brand harus sesuai dengan pangsa pasar serta hubungkan produk dengan faedah. Contohnya didalam produk tertulis kriukk kriuk dipastikan bahwa itu produk makanan.

Pejuang ekonomi keluarga diminta untuk konsisten dengan barang bikinannya. Serta bila produk sudah jadi, harus memperhatikan harga yang didapat dari ongkos bikin, bahan baku, dan kesemuanya seperti laba untuk penentuan harganya.

“Juga ibu-ibu harus memperhatikan harga dari kompetitor atau pesaing yang membuat barang sama dengan Anda juga,” lanjutnya.

Sedangkan saat pemilihan nama sebuah produk yang dihasilkan, Luhur mengatakan, agar pelaku UKM benar-benar memikirkan terlebih dulu dengan jalan perenungan. Karena dengan nama produk ini nantinya untuk jangka panjang.

“Mengurus izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) atau perijinan lain itu tidak gampang. Jadi bila ganti nama maka mengurusnya akan lama lagi,” kata Luhur, sambil meminta untuk pemberian nama produk tidak boleh sama dengan produk lain. (wh)