Orchid dan Vonis Kanker Itu

Orchid dan Vonis Kanker Itu
Kebun Anggrek Sien Orchid Prigen, Pasuruan.

 

Terlampau banyak kisah nyata tentang tanaman dan bunga anggrek terhadap kehidupan manusia. Sadar atau tidak, memelihara sekaligus merawat anggrek seperti menjelajahi wisata ruhani. Keterkaitan manusia dengan bunga anggrek bagaikan magnet. Saling mempengaruhi dan membentuk “ikatan jiwa”.

Di bawah ini cerita yang menyebutkan anggrek mampu memberikan spirit. Memberikan semangat manusia atas tekanan hidup keseharian.

Dokter Gumarwati duduk termangu, matanya menatap kosong. Air matanya sudah hampir tertumpah. Seorang dokter ahli tulang (rekannya kuliah) di Medan, Sumatera Utara mengatakan bahwa umurnya paling lama cuma bisa bertahan tiga bulan. Kanker tulang telah menggerogoti tubuhnya.

Sulit bagi Wati (panggilan akrabnya) untuk menerima kenyataan tersebut, sekalipun dia seorang dokter yang kerapkali juga menangani berbagai macam pasien dengan beragam macam penyakit pula.

Akhir tahun 1996, Wati memutuskan istirahat total. Rumah kediaman salah satu anaknya di Lawang (Kabupaten Malang) menjadi pilihan wanita kelahiran 17 Desember 1944 tersebut untuk menghabiskan waktu sekaligus menanti “kehadiran” malaikat pencabut nyawa. Mulai suami, anak dan seluruh keluarganya sibuk memberi hiburan sebagai pengisi waktu yang seolah-olah dirasakan semakin berjalan cepat.

Suatu saat dengan ditemani anaknya, dia mengunjungi kebun anggrek “Sien Orchid” di daerah Prigen, Kabupaten Pasuruan. Di sana Wati kagum melihat budidaya tanaman anggrek milik keluarga Moling Simardjo. Wati merasakan kepuasan menikmati ribuan kuntum anggrek, kendati cukup dari atas kursi roda. Kalau sudah begitu ia lupa tentang sakitnya. Lupa jika matahari sudah beringsut ke ufuk barat. Lupa kalau sebenarnya ia adalah seorang dokter ternama di Kota Binjai (Sumatera Utara) yang sudah “divonis” mati. Sejak itu, ia rajin mendatangi kebun setiap dua hari sekali. Paginya diantar, sore hari dijemput lagi oleh anaknya.

Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan, bahkan sudah lama berlalu. Tuhan menunjukkan kebesaranNya. Suatu saat, dokter lulusan Universitas Sumatera Utara ini, mendadak bisa bangkit dari kursi roda dan berjalan sambil berpegang pada tiang besi penyangga anggrek. Wati pun kaget. Pemilik kebun juga kaget. Semua berucap syukur. Seminggu kemudian ketika mendatangi kebun, ia tidak lagi menggunakan kursi roda. Ia berjalan dibantu tongkat, sampai hari ini!

Sebelas tahun peristiwa itu berlalu sudah. Kini Wati sudah kembali tinggal di kota kelahirannya , Binjai. Panggilan dan sebutan dokter masih melekat, walau pun dia sudah pensiun dini dari profesi itu. Dokter Wati sembuh dari kanker tulang yang tergolong ganas. Penyakit itu bahkan sempat membuat warna kulit sekujur tubuhnya kehitaman.

“Hidupku selalu tumbuh manakala mataku melihat anggrek” ujar Wati. Dihubungi melalui telepon, nada suara di seberang sana penuh semangat. Ia bercerita, belum lama ini mengunjungi kebun anggrek di Penang, Malaysia. Sampai saat ini ia masih rajin dan setia merawat koleksi anggreknya. Kepada siapa pun ia berharap agar bisa menghayati hidup melalui tanaman, khususnya anggrek. Pengalaman hidupnya akan senantiasa ditularkan kepada orang-orang yang punya problem kesehatan.

Punya Jiwa

Moling Simardjo, pengembang anggrek “Sien Orchid”, punya banyak kisah unik. Pada tahun 1995, Moling mengawinkan dua anggrek dendrobium di kebunnnya. Yang pertama antara Dendrobium Joan Kashima dengan Dendrobium Lily Yang. Sedangkan yang kedua antara Dendrobium Joan Kashima dengan Dendrobium Madame Uraiwan.

Hasil silangan yang pertama didaftarkan ke London dengan nama baru Dendrobium Bali Moon. Bunganya cantik, terdapat warna ungu pada lidah sepal. Bali Moon diabadikan sebagai rasa cintanya terhadap keindahan Pulau Dewata, Bali.

Sewaktu mencari-cari nama yang pas untuk hasil silangan kedua, Moling kedatangan seorang guru dari Surabaya. Tamu ini (ternyata guru dari salah seorang anak Moling) menangis hampir tiada henti. Ia bercerita tentang musibah kecelakaan yang menimpa putrinya, Margaretha Junita yang tengah tugas belajar di Australia. Menurut cerita, kejadian tersebut juga diwarnai “penampakan”. Pengemudi mobil yang juga teman Margaretha, sekonyong-kontong melihat ada seorang wanita sedang menyeberang. Lantaran terkejut, pengemudi hilang keseimbangan dan terjadilan tabrakan yang merenggut nyawa Margaretha Junita.

Moling segera sadar, inilah kesempatan ia menghibur ibu guru. Maka, nama Margaretha Junita oleh Moling ditawarkan menjadi nama silangan anggrek yang terbaru. Sang guru tadi langsung setuju. Hari itu juga silangan kedua diberi nama Dendrobium Memorial Margaretha Junita. Ditambahi “memorial”, semata-mata untuk mengenang almarhumah.

Suatu hari keributan kecil mengusik keheningan para pekerja di kebun pembibitan anggrek seluas 2 hektar tersebut.

Apa yang sedang terjadi?

Seluruh anggrek silangan Dendrobium Memorial Margaretha Junita rusak parah. Bibit yang masih berada di dalam botol mendadak kering. Tanaman yang berusia remaja tiba-tiba layu. Tanaman yang sudah besar dan mulai berbunga mengalami rontok. Sulit dipercaya, karena akhirnya tidak satu pun tanaman tersisa.

“Anehnya, tanaman anggrek yang berada di kanan dan kirinya tetap utuh” tutur Moling, seorang Dirut sebuah Bank yang banting stir menggeluti anggrek ini. (wh)