Orang Indonesia Lebih Suka Beli Pulsa Ketimbang Makanan Bergizi

Orang Indonesia Lebih Suka Beli Pulsa Ketimbang Makan Bergizi
Heri Setiawan, Hj Priastoetie, Dedi Wicaksono, dan Kresnayana Yahya. umar alief/ enciety.co

Tingkat konsumsi masyarakat Indonesia untuk sadar makan makanan bergizi masih terbilang rendah. Hal tersebut disampaikan Kresnayana Yahya, pakar statistik ITS, saat menjadi pembicara dalam acara Prospektif Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (20/12/2013).

Menurutnya, penduduk Indonesia harus mau mengejar budaya hidup sehat. Ini bila dilihat dari turunnya angka pengangguran. Sepuluh tahun lalu, angka pengangguran Indonesia mencapai 10 persen, kini tinggal 4 persen saja.

“Jadi makanan bergizi untuk mencapai masyarakat yang kuat sudah harus bisa dicapai,” tegasnya.

Yang membuat Kresnayana heran, kebutuhan gizi di Indonesia kalah dibandingkan kebutuhan konsumtif. Padahal, banyak penduduk Indonesia dapat merokok tiga batang sehari harinya. Juga berapa banyak  penduduk yang mementingkan kebutuhan beli pulsa untuk bergaya dibandingkan membeli makanan bergizi.

“Bandingkan dengan Malaysia yang mengonsumsi 300 butir telur per orang per tahun. Kalau di kita cuma 80 butir per orang per tahunnya,” papar Chairperson Enciety Business Consult.

Pembicara lainnya, Heri Setiawan dari Wonokoyo Group, mengatakan konsumsi telur hanya 60 persen per tahun dari kebutuhan makanan. Kalau dihitung per hari, baru 7 hari makan 1 telur di Indonesia.

“Padahal di Malaysia, 1 butir telur per hari. Bandingkan dengan negara Thailand yang mengonsumi 100 persen protein hewani, dan Vietnam menempati urutan nomer tiga,” jlentreh Heri.

Ditambahkan Heri, mengonsumsi telur itu sangat baik untuk kesehatan badan dan otak. “Juga dapat menentramkan keresahan jiwa,” ujarnya, lalu tertawa.

Sedangkan Priastoetie dari pabrik pakan ternak PT Wirifa Sakti, mengatakan telur adalah makanan yang tinggi lemak jenuhnya. Untuk dikonsumsi bergantung dari cara memasaknya. “Bila dimasukkan dengan santan, maka makanan itu akan jadi kolesterol tinggi,” katanya.

Namun bila dimasak dengan benar, maka telur dapat dikonsumsi oleh siapapun, termasuk orang lanjut usia. “Contohnya dengan direbus telurnya, maka tidak akan membuat penyakit,” pungkasnya.(wh)