Omzet Pedagang Pasar Turi Turun 98 Persen

Omzet Pedagang Pasar Turi Turun 98 Persen
Para pedagang Pasar Turi saat menemui Asdep V Kemenpolhukam di Jakarta. Foto: dok H Suihami

Kejanggalan demi kejanggalan terus terjadi di tengah sengketa kasus Pasar Turi. Pengusutan kasus hukum hingga kini masih menimbulkan tanda tanya besar. Lalu, siapa yang meraup untung di balik semua ini? Berikut laporan Sandhi Nurhartanto, jurnalis enciety.co.

Sebanyak 2.500 pedagang yang tergabung dalam Gerakan Pedagang Pasar Turi Surabaya Korban Kebakaran (GPPSKK) mengakui bila kini pendapatan mereka menurun drastis dibanding sebelum terjadinya kebakaran pada 2007 lalu.

Di Pasar Turi lama, perputaran uang dari data yang ada tercantum Rp 9-10 miliar per harinya. Kini, di tempat penampungan sementara (TPS), para pedagang hanya memperoleh omzet Rp 200 juta per hari. Turun sekitar 98 persen per hari.

“Aslinya siapa sebenarnya yang mau berdagang disini (TPS red). Wong penghasilan kami turun drastis. Para pedagang disini sebenarnya mau masuk ke Pasar Turi yang baru bila Pemerintah Kota Surabaya yang mengelola tempat tersebut. Selain itu kami tidak mau karena ini adalah bentuk perlawanan kepada investor,” tegas H Syukur, Koordinator Kelompok Pedagang (KompakPasar Turi Surabaya yang termasuk dalam Gerakan Pedagang Pasar Turi Surabaya Korban Kebakaran (GPPSKK), Senin (26/10/2015).

Menurut pedagang perlengkapan tentara tersebut, pihak GPPSKK sendiri terus berusaha berjuang. Yang terakhir adalah seminggu lalu, perwakilannya berangkat ke ibu kota Jakarta untuk melaporkan Henry J Gunawan selaku pemilik PT Gala Bumi Perkasa kepada pihak berwenang.

Mereka telah melaporkan ke Sekretariat Negara (Setneg), Dirjen Pajak, DPR RI Komisi III, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Asdep V Koordinator Penanganan Kejahatan Konvensional dan Kejahatan Terhadap Kekayaan Negara Kemenpolhukam, Brigjend Yanto Tara.

“Para pejabat yang telah kami lapori tersebut secara sesungguhnya yang terjadi di Pasar Turi menyambut positif atas laporan kami. Mereka berjanji akan menindaklanjuti hal tersebut,” ujarnya.

Senada, ketua Himpunan Pedagang Pasar Turi (HP2T) Suihami yang juga tergabung di GPPSKK menceritakan bila perjuangan pihaknya akan terus dilakukan. Sejak tahun 2013 lalu, pihaknya telah melaporkan ke pihak Polrestabes Surabaya tentang Henry J Gunawan yang juga dikenal dengan nama Cen Liang.

“Kami juga laporkan kasus ini ke Polda Jatim pada Januari 2015 lalu bersama penasihat hukum kami I Wayan Titib Sulaksana. Sedangkan Bu Risma dilapori pada Mei oleh management PT Gala Bumi Perkasa. Malah yang dinyatakan selesai penyelidikan oleh Polda Jatim tentang kasus Bu Risma. Ini kan aneh pihak Polda Jatim,” tegas H Suhaimi. (wh)