Omset HTC Kuartal IV Di bawah Ekspektasi

Omset HTC Kuartal IV Di bawah Ekspektasi

Pembuat smartphone asal Taiwan, HTC melaporkan laba bersih kuartal keempatnya, Minggu (5/1/2014). Menurut Reuters, hasilnya lebih buruk dari perkiraan. Meskipun pemotongan biaya dan keuntungan satu kalinya agresif.

Perusahaan melaporkan laba bersihnya sebesar USD 10 juta atau senilai Rp 121,7 triliun. Ini lebih rendah dibandingkan dengan kerugian bersihnya sebesar USD 99,9 juta pada kuartal sebelumnya dan keuntungan USD 34 juta pada kuartal yang sama tahun 2012.

Menurut Thomson Reuters I/B/E/S, angka ini meninggalkan selisih yang besar atas laba bersih sejumlah USD 24,3 juta atau Rp 295,731 miliar.

Jumlah tersebut menggarisbawahi seberapa cepat masalah yang telah menumpuk di perusahaan tersebut. HTC disebut menyuplai satu pada setiap 10 smartphone yang terjual di seluruh dunia.

HTC telah kehilangan hampir tiga perempat dari nilai pasar dalam dua tahun terakhir. Kini ia bernilai sekitar USD 4 miliar, tertinggal jauh oleh 2 pesaing kuatnya, Apple dan Samsung.

Maka dari itu, manajemen baru dipasang pada kuartal terakhir untuk mengatasi masalah. Mereka berharap bisa merebut kembali pelanggan yang masih mengutamakan brand, gaya, dan ponsel penuh fitur.

Meskipun produk terbaru andalannya, HTC One, mendapat sambutan hangat, saham global HTC di pasar smartphone telah menurun. Pada kuartal ketiga 2013 nilainya menjadi hanya 2,2 persen, padahal pada kuartal ketiga tahun 2011 mencapai 10,3 persen.

Sementara baru-baru ini, kampanye HTC Here’s To Change berupaya menampilkan sosok Iron Man. Namun para analis tetap skeptis soal kemampuan HTC untuk membedakan citra merek di ajang pertarungan merek smartphone itu.

HTC kini telah memulai kampanye pemotongan biaya yang meliputi pembelian chip-nya pada vendor yang lebih murah. Serta menerapkan sistem outsourcing produksi. Ia juga menjual saham merek headphone-nya, Beats Electronics LLC.

Pabrik yang ditutup, gelombang kepergian para eksekutif dan pergantian para top-level. Dalam industri, itu merupakan tanda-tanda masalah terbesar perusahaan. Yakni, connecting with consumers.