Ombudsman RI Sidak Pasar Turi

Ombudsman RI Sidak Pasar Turi

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jatim Agus Widiyarta melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Turi Baru Surabaya, Selasa (23/6/2015). Ini dilakukan guna memantau kesiapan operasional di antaranya menyangkut jaringan listrik, jaringan air, lift, toilet dan lainnya.

Sejumlah pedagang yang mengetahui kehadiran Ombudsman, akhirnya meluapkan kekecewaan mereka lantaran Pasar Turi yang masih sepi.

“Pak bagaimana ini, Pasar Turi kok masih sepi terus. Saya jualan sudah dua bulan di sini, tapi pembeli tidak ada,” ujar salah satu pedagang Pasar Turi, Balqis.

Pada saat Ombudsman inspeksi tampak hanya beberapa pedagang saja yang menggelar dagangannya. Barang yang dijual seperti perabotan rumah tangga dan baju busana muslim, baju anak-anak. Sedangkan di lower ground (LG), terlihat sejumlah pedagang menggelar dagangannya secara terbuka.

Ini merupakan pameran yang digelar pengelola Pasar Turi untuk menarik minat masyarakat berbelanja di pasar yang dibangun di atas tanah milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya ini.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Timur (Jatim) Agus Widiyarta menyatakan bahwa sebenarnya secara fisik Pasar Turi sudah siap untuk beroperasi. Hal ini terlihat dari semua stan yang tuntas dikerjakan sudah dilengkapi dengan rolling door, jaringan listrik serta air juga sudah siap, toilet dan lift juga sudah bisa digunakan.

“Saya kira Pasar Turi ini sudah siap dan layak untuk digunakan berjualan. Mungkin hanya tinggal penyelesaian saja. Mungkin ada beberapa bagian bangunan yang masih terbuka, itu perlu ditutup,” katanya.

Agus mengungkapkan, dari 3.780 pedagang Pasar Turi lama, sebanyak 3.600 di antaranya sudah melakukan pembayaran stan ke pengembang. Hanya sebagian kecil saja yang bersedia membuka stan karena kondisi Pasar Turi yang masih sepi.

Ia menduga sepinya pasar yang dibangun dengan dana sekitar Rp1 triliun lebih itu karena keberadaan tempat penampungan sementara (TPS). TPS ini berada tepat di depan Pasar Turi.

“Dalam waktu dekat, kami akan pelajari apa saja yang kami temukan selama sidak ini. Setelah itu kami akan memberi saran pada Pemkot Surabaya,” ujarnya.

Menurut Agus, beberapa bentuk kerja sama dari Pasar Turi ini, di antaranya kerja sama antara Pemkot dengan pengembang Pasar Turi, PT Gala Bumi Perkasa dan antara PT Gala Bumi Perkasa dengan pedagang.

Kerja sama antara Pemkot dengan PT Gala Bumi Perkasa adalah kerja sama build operation transfer (BOT) selama 25 tahun. Pengembang kemudian menjual stan di Pasar Turi dengan status Hak Milik atau Strata Title.

“Masalah kerja sama antara Pemkot dengan pengembang, saya harap bisa segera diselesaikan. Mudah-mudahan ditemukan win-win solution,” harap Agus.

Sementara itu, General Manager Pasar Turi Tedi Supriadi mengakui bahwa Pasar Turi masih sepi. Banyak pedagang yang mengeluh dengan keadaan tersebut.

Saat ini, pihaknya menggelar pameran baju muslim untuk menarik pembeli. Selain itu pihaknya juga bekerja sama dengan agen perjalanan haji dan umrah. “Kami sangat berharap Pasar Turi bisa segera ramai lagi seperti dulu,” ujarnya. (ant/wh)