Oktober, Jatim Deflasi 0,19 Persen

Oktober, Jatim Deflasi 0,19 Persen
M Sairi Hasbullah saat jumpa pers di lantai II BPS Jatim, Senin (2/11/2015). Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Jawa Timur pada bulan Oktober 2015 ini mengalami deflasi 0,19 persen dari periode tahun sebelumnya di bulan yang sama mencapai 0,08 persen. Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jatim, empat kota/ kabupaten mengalami deflasi dan empat kota/ kabupaten terjadi inflasi.

Deflasi tertinggi terjadi di kota Surabaya sebesar 0,34 persen, diikuti kabupaten Banyuwangi dengan 0,25 persen, kabupaten Jember dengan 0,05 persen serta deflasi terendah kabupaten Kediri sebesar 0,04 persen. Untuk inflasi di urutan pertama kabupaten Sumenep dengan 0,15 persen, Madiun dengan 0,10 persen, kota Malang dengan 0,03 persen serta kota Probolinggo dengan 0, 02 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim M Sairi Hasbullah mengatakan terjadinya deflasi pada Oktober 2015 karena penurunan harga bahan makanan di Jatim lebih tinggi dibandingkan nasional

“Deflasi belum tentu bagus. Deflasi tinggi karena stok barang yang melimpah di Jatim, Atau stok ada namun permintaan yang menurun karena daya beli masyarakat yang kurang. Ini adalah murni dari pasar,” tegas M Sairi Hasbulla di lantai II kantor BPJS Jatim, Senin (2/11/2015).

Selain itu, penurunan harga di bulan Oktober 2015 cukup besar terutama di sektor komoditi makanan. Antara lain, cabe rawitsebesar 49 persen, cabe merah besar 33,3 persen, telur ayam 8 persen, dan daging ayam ras 3,5 persen.

Juga tarif listrik, melon, parfum, dan pepaya. Termasuk penurunan pada komodti emas perhiasan 1 persen. “Komoditi emas perhiasan mengalami penurunan, meskipun tidak banyak, namun cukup mempengaruhi terjadinya deflasi,” tuturnya.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi/naiknya harga tomat sayur, wortel, bawangmerah, jeruk, kentang, bawang putih, pasir, biskuit, rokok kretek filter, dan biaya tukang bukan mandor.

Berdasarkan data yang dikeluarkan BPS Jatim diketahui, dari 6 ibukota provinsi di pulau Jawa, lima kota mengalami deflasi dan satu kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya 0,34 persen, diikuti Kota Semarang 0,16 persen, Kota Bandung 0,06 persen dan Kota Jakarta 0,05. Sedangkan inflasi hanya terjadi di Kota Yogyakarta  0,01 persen.

Dari 82 kota IHK nasional, 44 kota mengalami deflasi dan 38 kota mengalami inflasi. Lima kota yang mengalami deflasi tertinggi adalah Tanjung Pandan 1,95 persen, Tual sebesar 1,53 persen, Singaraja sebesar 1,05 persen, Bulu Kumba sebesar 1,03 persen, dan Bau-Bau sebesar 1,02 persen. Sedangkan 5 kota yang mengalami inflasi tertinggi adalah Menado sebesar 1,49 persen, Ambon sebesar 1,02 persen, Merauke sebesar 1,01 persen, Bima sebesar 0,92 persen dan Ternate sebesar 0,91 persen.

Laju inflasi tahun kalender (Oktober 2015 terhadap Desember 2014) Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 2,16 persen,angka ini lebih rendah dibanding inflasi tahun kalender Oktober 2014 sebesar 3,83 persen. Inflasi year-on-year (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) Jawa Timur  sebesar 6,03 persen, angka ini lebih tinggi dibanding inflasi year-on-year bulan Oktober 2014 sebesar 4,57 persen.