OJK: Pertumbuhan Ekonomi Makro Capai 5,15 Persen pada 2018

OJK: Pertumbuhan Ekonomi Makro Capai 5,15 Persen pada 2018

foto:arya wiraraja/enciety.co

Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pertumbuhan ekonomi makro nasional mencapai 5,15 persen pada 2018. Sedangkan untuk angka inflasi nasional mencapai 3,13 persen.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Jatim 2019 di Hotel JW Marriot, Kamis (31/1/2019).

Menurut dia, capaian tersebut patut disyukuri pelaku usaha dan masyarakat secara umum. “Di tengah perekonomian global yang tidak menentu ini capaian pertumbuhan ekonomi global ini menjadi yang paling tertinggi kita sejak tahun 2014,” tegasnya.

Menurut Nurhaida, kinerja perekonomian Indonesia yang terus tumbuh ini diakui beberapa rating agency international. Lantas, sejalan dengan perbaikan fundamental perekonomian tersebut menjadi modal bagi berbagai sektor industri di Indonesia untuk berkembang.

“Ini kesempatan kita di tahun 2019 ini untuk menjadikan sektor industri menjadi motor penggerak ekonomi dan juga sebagai katalis keberhasilan reformasi struktural,” tandas dia.

Di sisi lain, sebut Nurhaida, pertumbuhan kredit bank di tahun 2018 terbilang baik dan lebih tinggi dari tahun 2017. Angkanya mencapai 11,75 persen. Untuk risiko pemberian kredit juga cukup baik.

Menurut Nurhaida, pada 2018, angka Non Performing Loan (NPL) perbankan mencapai 2,37 persen, dengan NPL rate hanya sekitar 1 persen.

“Di sektor jasa keuangan, likuiditas perbankan juga sangat memadai. Kami mencatat ekses reserve likuiditas perbankan yang mencapai Rp 500,29 triliun. Sementara untuk rasio kecukupan lainnya masih terjaga. Hal ini terjadi karena di tahun 2018 telah terjadi capital flows karena terjadi perbaikan perekonomian yang ada di negara-negara maju,” tegasnya.

Terkait pasar modal, OJK juga melihat pertumbuhan yang sangat bagus. Kata dia, ada 62 emiten baru di pasar modal. Angka ini merupakan pertumbuhan emiten tertinggi selama kurun beberapa tahun terakhir. Sementara untuk nilai emisi pasar modal angkanya menurun jika dibanding 2017 yang angkanya mencapai Rp 255 triliun.

“Tetapi, angka-angka ini menjadi pertanda yang sangat bagus, karena banyak perusahaan-perusahaan kecil yang mulai masuk di lantai bursa pasar modal. Kami harap, ini menjadi contoh bagi para pelaku usaha yang punya perusahaan kecil untuk berani masuk ke pasar modal,” pungkas Nurhaida. (wh)