OJK: Indeks Literasi Keuangan Masyarakat Naik 7,9 Persen

OJK: Indeks Literasi Keuangan Masyarakat Naik 7,9 Persen

Press conference Sosialisasi Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Sektor Jasa Keuangan di Ballroom Sheraton Hotel, Selasa (15/8/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Perekonomian Indonesia menunjukkan perubahan setiap tahunnya. Tahun 2016, terjadi kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 12.406,8 triliun rupiah yang juga diikuti oleh kenaikan PDB per kapita mencapai Rp 47,96 juta.

Hal itu disampaikan oleh Kepala OJK Regional 4 Jawa Timur Sukamto,  di sela acara Sosialisasi Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Sektor Jasa Keuangan di Ballroom Sheraton Hotel, Selasa (15/8/2017)

Lebih lanjut, menurut dia, 6 PDB regional di wilayah Provinsi Jawa Timur juga mengalami kenaikan setiap tahunnya dan pada tahun 2016 PDB Regional mencapai Rp 1.405 triliun rupiah. PDB Regional Jawa Timur yang memberikan sumbangsih lebih dari 10 persen (sepuluh persen) dari total PDB secara Nasional menunjukan dampak yang cukup signifikan perekonomian nasional.

Selain itu, PDB per kapita yang meningkat juga menunjukkan bahwa kemampuan  daya beli masyarakat Indonesia semakin meningkat.

“Dengan meningkatnya kemampuan daya beli tersebut, maka semakin besar peluang masyarakat dalam memanfaatkan berbagai produk dan layanan jasa keuangan dalam transaksi yang dilakukan,” kupasnya.

Di samping itu, berdasarkan data kependudukan di Provinsi Jawa Timur terjadi penurunan jumlah penduduk miskin dari sebelumnya pada bulan maret tahun 2015 berada pada angka 4.789.120 jiwa, menjadi 4.702.000 jiwa di waktu yang sama tahun 2016.

“Pertumbuhan perekonomian sebagaimana tersebut di atas tentunya merupakan kontribusi dari sektor keuangan dengan proporsi tertentu,” jelas Sukamto.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2016 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mengalami peningkatan sebesar 7,9 persen dari yang sebelumnya sebesar 21,8 persen di tahun 2013 menjadi 29,7 persen di tahun 2016.

“Sementara itu, indeks inklusi keuangan masyarakat Indonesia juga mengalami peningkatan kurang lebih sebesar 8,1 persen dari 59,7 persen di tahun 2013 menjadi 67,8 persen di tahun 2016,” jelas Sukamto lagi.

Secara umum indeks literasi dan inklusi keuangan di Indonesia mengalami peningkatan, namun dominasi sektor perbankan di masyarakat masih sangat tinggi dibandingkan dengan sektor industri keuangan non bank dan sektor pasar modal. Pada tahun 2016, indeks literasi keuangan di sektor perbankan adalah sekitar 28,9 persen diikuti dengan sektor pergadaian 17,8 persen
dan sektor pasar modal adalah yang terendah dengan indeks literasi keuangan sekitar 4,4 persen saja.

“Ditahun 2016 yang lalu, indeks inklusi keuangan di sektor perbankan adalah 63,6 persen diikuti dengan sektor asuransi 12,1 persen dan sektor pasar modal adalah yang terendah dengan indeks inklusi keuangan sekitar 1,3 persen,” tegasnya.

Oleh karena itu, diperlukan langkah yang strategis untuk meningkatkan indeks literasi dan inklusi keuangan serta mendorong masyarakat untuk dapat mengetahui dan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan di setiap sektor jasa keuangan.

“Selain itu, upaya peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan perlu mempertimbangkan aspek kemerataan sehingga dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia,” ujar Sukamto. (wh)