OJK Bekali Manajemen Keuangan Pelaku Usaha PE dan PM

OJK Bekali Manajemen Keuangan Pelaku Usaha PE dan PM

Reni K. Ashuri menjadi pembicara di seminar Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Surabaya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Butuh dua peran sekaligus ketika kita memutuskan menjadi pelaku usaha. Pertama, sebagai pengelola keuangan rumah tangga. Kedua, sebagai pengelola keuangan bisnis. Hal itu disampaikan Reni K. Ashuri, financial planner Syariah Wealth Academy oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 4 Jawa Timur, dalam acara pelatihan A to Z Pahlawan Ekonomi (PE) & Pejuang Muda (PM) Surabaya di Convention Hall Palm Park Hotel, Sabtu (27/7/2019).

Menurut dia, tujuan utama menjadi pelaku usaha adalah menghasilkan pemasukan berupa uang. Kemudian uang yang dikumpulkan harus dikelola dengan baik.

“Banyak dari kita yang berpikir yang penting pendapatan lancar, cukup untuk makan, dan diputar buat modal. Padalah uang yang kita miliki ini sangat terbatas. Untuk itu, harus dikelola dengan baik,” tegasnya.

Reni lalu mengatakan, sebagai pelaku usaha wajib hukumnya membedakan keuangan rumah tangga dengan keuangan bisnis. Sebab, jika keduanya dicampur, bisnis tidak akan maju. Sedangkan keperluan rumah tangga tidak dapat tercukupi dengan baik. “Kita harus bisa memilah dan membagi keuangan kita,” ungkapnya.

Dengan kondisi keuangan terbatas, terang Rani, jika dikelola dengan baik dapat menabung, membeli kebutuhan sehari-hari, membeli rumah baru, dan membahagiakan keluarga. Di sisi lain, pelaku usaha juga dihadapkan dengan adanya inflasi, naiknya harga barang yang tiap tahun terus berubah.

“Contohnya, dulu uang Rp 100 ribu bisa beli banyak barang, namun sekarang cuma bisa beli satu dua barang, itu pun kalau ada diskon. Jadi, dengan adanya inflasi, 28 tahun lagi uang satu juta yang disimpan di bawah bantal hanya akan bisa beli satu mangkuk mi ayam. Untuk itu, kita butuh perencanaan keuangan,” tegas dia.

OJK Bekali Manajemen Keuangan Pelaku Usaha PE dan PM
foto: arya wiraraja/enciety.co

Menurut Reni, jika usia di atas 55 tahun, mulai berpikir harus “tetap berpenghasilan” dan bukan “berpenghasilan tetap”. “Jika kita berpenghasilan tetap seperti saat ini, ke depan penghasilan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Karena faktor inflasi ini uang yang saat ini kita kumpulkan nilainya akan berkurang,” jelas dia.

Pendapatan pelaku usaha didapat dari laba bersih bisnis. Kata Reni, ada rumus sederhana yang dapat diterapkan, yakni dari laba disishkan 10 persen untuk dana sosial, 20 persen untuk investasi. Selanjutnya sisihkan dana untuk keperluan sehari-hari.

“Untuk investasi, kita harus menyisihkan dana, bukan menyisakan dana. Bijaklah merencanakan keuangan. Pilih, tempat investasi yang terdaftar di OJK. Dengan berinvestasi kita dapat mengamankan uang kita supaya tidak tergerus inflasi,” pungkasnya. (wh)