OJK Akan Perketat Perusahaan Asuransi

OJK Akan Perketat Perusahaan Asuransi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berjanji akan memperketat pengawasan terhadap perusahaan asuransi. Sektor ini tergolong dinamis sehingga memerlukan perhatian ekstra dibandingkan industri keuangan non bank (IKNB) lainnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani mengatakan, asuransi merupakan industri yang mengumpulkan dana masyarakat. Namun, industri tersebut memiliki sifat yang dinamik atau berubah-ubah.

“Tahun depan, kami akan banyak memberikan perhatian terhadap pengawasan kepada perusahaan-perusahaan asuransi. Dengan pengawasan yang ketat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakan mengenai asuransi,” ujar dia di Jakarta, baru-baru ini.

Firdaus mengungkapkan, penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah atau kurang dari 2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Namun, hal itu menunjukkan bahwa potensi asuransi di Indonesia masih besar. “Insya Allah penetrasi asuransi kita akan terus tumbuh hingga 5 persen dan menyamai negara Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat (AS).

Untuk mendorong peningkatan literasi keuangan di Indonesia, Dewan Asuransi Indonesia (DAI) menyelenggarakan perayaan puncak ‘Insurance Day’ pada 9 November lalu di Bundaran HI. Acara yang sudah diadakan ke-9 kali ini, dihadiri oleh Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani.

Selain itu ada juga, pelaku usaha yang merupakan perwakilan dari tiga asosiasi, yaitu Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI).

Pada kesempatan itu, Ketua DAI Hendrisman Rahim mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang positif berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat, bahkan mampu memacu pertumbuhan masyarakat ekonomi kelas menengah. Namun, ironis jumlah masyarakat kelas menengah yang bertambah tidak beriringan dengan jumlah orang yang memahami asuransi.

“Dari 240 juta penduduk Indonesia hanya 18 persen atau sekitar 43,2 juta orang yang mengerti dan memahami asuransi. Bahkan, dari jumlah tersebut hanya 12 persen atau 28,8 juta penduduk yang merasakan produk asuransi,” jelasnya. (bst/ram)