Obsesi Nurul Kebaya Kirana Lahirkan Produk Kreatif Khas Warisan Leluhur

Obsesi Nurul Kebaya Kirana Lahirkan Produk Kreatif Khas Warisan Leluhur

Nurul Istiqomah saat menjadi narasumber acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (16/3/2018) lalu. foto:arya wiraraja/enciety.co

Melestarikan budaya dengan cara menciptakan dan menjual produk kreatif warisan leluhur. Itulah  menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan Nurul Istiqomah, owner Kebaya Kirana.

Nurul, begitu karib ia disapa, adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Surabaya Jurusan Tata Busana. Ia mulai merintis menjadi pelaku usaha sejak lulus sekolah, tahun 2000. Saat itu, pascalulus, ia banyak dapat tawaran membuat baju fashion dan kebaya.

Menurut Nurul, kala itu dia tidak punya target jelas dalam melakoni usaha. Yang ada dalam pikirannya hanya perasaan gembira ketika produk yang dia ciptakan dikenakan para pelanggannya.

Nurul juga mengaku, dengan mengembangkan usahanya tersebut, ia juga dapat menabung untuk masa depan.

“Waktu itu, saya hanya berpikir dengan menjahit dan menciptakan produk jahitan seperti kebaya dan baju batik, saya dapat menghasilkan pemasukan sendiri. Tidak merepotkan orang tua,” cetus dia saat diwawancarai enciety.co di sela menghadiri acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (16/3/2018) lalu.

Kemampuan Nurul dalam hal fashion dan desain busana makin berkembang setelah ia diterima di salah satu butik di Kota Surabaya. Selain bekerja di butik bagian produksi, ia juga mengembangkan usahanya dengan banyak menerima pesanan dari para pelanggan.

“Dengan cara ini, saya dapat belajar sambil bekerja. Selain dapat belajar memperdalam ilmu menjahit, saya juga dapat menghasilkan pemasukan yang di kemudian hari dapat saya pakai buat buka usaha sendiri,” jelas Nurul.

Pascamenikah pada tahun 2014, Nurul mulai serius menjadi pelaku usaha. Saat itu, agar cepat mendapatkan keturunan, istri Dedy Sugianto tersebut memutuskan keluar dari butik tempatnya bekerja.

“Waktu itu, saya sebenarnya diberikan kebebasan suami untuk bekerja. Namun, saya punya rencana untuk segera memiliki momongan, sehingga saya putuskan untuk keluar dari pekerjaan dan ikut program memiliki momongan,” tutur dia.

Berhenti bekerja di butik, Nurul yang merupkan anggota Pejuang Muda Surabaya itu, tidak tinggal diam. Atas restu dari sang suami, ia memberanikan diri membuka usaha jahitan di rumahnya di Jalan Wonorejo 3, Surabaya.

“Setelah punya momongan, saya memberanikan diri membuka usaha jahit kecil-kecilan di rumah. Alhamdulillah, saya dapat dukungan penuh dari suami,” tutur dia, mengenang.

Setelah memerima banyak pesanan, terbesit di pikiran Nurul untuk memajukan usaha miliknya. Dengan bantuan suami yang bekerja di bidang IT, Nurul membuat berbagai akun di media sosial yang dijadikannya sebagai toko online.

“Waktu itu, saya tidak biasa buka-buka Facebook atau Instagram. Namun, suami saya menyarankan untuk sering buka-buka media sosial agar saya tidak ketinggalan zaman,” ujar Nurul. (bersambung ke halaman 2)