Obama Akui Sempat Remehkan ISIS

 

Obama Akui Sempat Remehkan ISIS

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengakui, pihaknya sempat menganggap remeh kemampuan militan di Suriah   membentuk kelompok baru.  Berbicara pada CBS News, Obama mengatakan mantan pejuang Al-Qaeda dari Irak yang terbentuk dari pasukan lokal dan juga diikuti warga negara AS berhasil berkumpul di Suriah untuk membentuk kelompok berbahaya baru yaitu Negara Islam (ISIS).

Koalisi Arab dan negara Barat yang dipimpin AS telah melakukan serangan udara untuk memberangus kelompok yang menduduki Irak dan Suriah, yang disebut Obama sebagai “titik nol bagi penjihad di seluruh dunia”.

“Saya pikir kepala komunitas intelijen kami, Jim Clapper, menyadari bahwa mereka menganggap remeh apa yang terjadi di Suriah,” kata Obama, merujuk pada direktur intelijen nasional AS.

Saat ditanya apakah Washington juga terlalu berlebihan memperkirakan kemampuan atau kemauan militer Irak yang dilatih AS mampu berperang melawan militan seorang diri, Obama berkata: “Itu benar. Itu sangat benar.”

Obama menyatakan hal ini dalam wawancara program “60 Minutes” yang direkam pada Jumat (26/9/2014).

Dia mengatakan para juru kampanye ISIS menjadi sangat cerdas menggunakan media sosial, dan berhasil memikat anggota baru “yang percaya akan aksi jihad mereka yang tidak masuk akal” dari Eropa, Amerika dan Australia, serta juga dari negara-negara mayoritas Muslim.

Presiden AS mengatakan salah satu solusi atas konflik ini adalah Suriah dan Irak harus menyelesaikan krisis politik domestik mereka. Solusi abadinya, kata Obama, membutuhkan “perubahan bukan hanya di Irak, tapi negara-negara seperti Suriah dan sejumlah negara lain di wilayah itu, untuk memikirkan arti akomodasi politik.”

Beberapa negara di wilayah itu “kini telah menciptakan lingkungan di mana kaum pria muda lebih peduli apakah mereka Syiah atau Suni, dibandingkan apakah mereka mereka mendapat pendidikan yang tinggi atau mampu memiliki pekerjaan yang baik.”

Menurut Obama, sejumlah serangan udara yang dipimpin AS membantu menghancurkan teritori dan sumber vital kelompok ISIS. “Kami membantu Irak dalam pertarungan yang sangat nyata terjadi di tanah mereka, dengan pasukan mereka,” kata Obama. “Ini adalah kepentingan kita bersama melakukan hal itu, karena ISIL menunjukkan tidak hanya sebagai jaringan teroris, tapi kelompok yang memiliki ambisi teritori dengan menggunakan strategi dan taktik militer,” ujarnya.

Namun, katanya, serangan udara yang dilancarkan bukanlah serangan Amerika melawan ISIL. “Amerika memimpin komunitas internasional untuk membantu sebuah negara yang memiliki hubungan keamanan, dan memastikan mereka mampu mengurus urusannya sendiri.”

Irak masih terbelah sejak kedatangan tentara AS, di mana populasi Suni diasingkan oleh pemerintah otoriter yang dipimpin Syiah, sementara Suriah telah mengalami perang sipil sejak 2011. (bst/ram)