NU Siapkan Rp 2 T untuk Kredit Mikro

 

NU Siapkan Rp 2 T untuk Kredit Mikro

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  (PBNU) menyediakan kredit mikro. Melalui Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN), PBNU telah menyediakan dana sebesar Rp 2,1 triliun untuk anggota koperasi warga NU tanpa agunan. Hal ini merupakan stimulus berupa kemudahan dan bantuan modal untuk membangun ekonomi nahdlyin yang kuat.

“Mari menjadi wirausaha, berdagang memenuhi kebutuhan ekonomi. Karena Jika bangsa, rakyatnya itu kenyang Insya Allah rakyat juga aman,” kata Ketua PBNU KH Said Agil Siraj di Tambakberas Jombang.

Said memberikan motivasi kepada warga NU untuk mengembangkan wirausaha, khususnya di dunia perdagangan. “Potensi berdagang bukan hal baru bagi kalangan NU dan Islam, bahkan para ulama pendiri NU telah memulai dengan organisasi Nahdlatut Tujjar sekitar tahun 1918,” ujarnya.

Ia kemudian memberikan contoh terkait jiwa berdagang yang telah ditanamkan suku Quraish. Dari suku yang terkenal dengan jiwa berdagang ini Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Kakek Rasulullah yang ke-11 merupakan pedagang sukses dan menurun kepada diri Nabi.

“Allah memilih Nabi terakhir dari suku Quraisy. Maka tidak ada yang menghina beliau dari keturunan, yang dikenal sukses dalam bidang perdagangan,” ungkapnya.

Menteri Koperasi dan UKM, Syarief Hasan dalam kesempatan yang sama mengatakan, Indonesia menjadi incaran negara lain sebagai pasar perdagangan. Oleh sebab itu, pihaknya meminta nahdlyin untuk bisa menjadi wirausaha mandiri.

“Kita harus bisa mengusai pasar sendiri, karena potensinya sangat besar, jangan sampai hanya di kuasai negara lain,” tegasnya.

Syarief menuturkan Indonesia sebagai negara berkembang masih kekurangan wirausahawan. Dari jumlah penduduk yang ada seharusnya muncul pengusaha sebanyak 2 persen.

“Hari ini kita masih 1,6 persen pengusaha. Ini yang menjadi perhatian karena menurunkan kemiskinan rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Meski demikian, ia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya. “Perkapita pada tahun ini sudah jauh lebih tinggi dari tahun 2004 lalu. Sekarang sudah Rp 40 juta/pertahun dan 2004 lalu hanya 10 juta/tahun,” pungkasnya. (ram)