Novita Rahayu Tularkan Ilmu ke Sumenep

Novita Rahayu Tularkan Ilmu ke Sumenep

Novita Rahayu Purwaningsih, Mohammad Dihyah Suyuti (Sekretaris Disperindag Kabupaten Sumenep), dan Mohammad Halil Rosihan (Kabid Pemberdayaan Masyarakat Disperindag Kabupaten Sumenep).foto:ist

Sukses pelaku usaha Pejuang Muda Surabaya mengunspirasi banyak  kalangan. Satu di antaranya, Novita Rahayu Purwaningsih. Perempuan yang telah memproduksi baju eksklusif itu, diundang menjadi narasumber dalam Pembinaan dan Pelatihan Kerja Bagi Pata IKM Berbasis Industri Kreatif yang digelar Pemkab Sumenep, 28-29 Agustus 2018 lalu.

Selama dua hari, owner Vira Couplewear itu, membagi kisah sukses dan memberi motivasi. “Saya sempat gugup saat diundang untuk ngisi materi di Sumenep. Karena ini baru pertama saya diberi kesempatan menjadi pemateri di luar kota Surabaya,” kata dia kepada enciety.co, Jumat (30/8/2018).

Vira menceritakan pengalaman terberat saat membangun usaha. Kata dia, merintis usaha dari nol itu sulit. “Namun, kalau punya mental, keyakinan, dan konsisten menjalankan usaha, kita pasti bisa,” katanya.

Vira lalu menuturkan, masalah yang dihadapi pelaku usaha pemula sejatinya hampir sama. Kebanyakan mereka terkendala bahan dan peralatan.

“Hanya yang membedakan, di Surabaya punya sumber daya manusia yang dapat membantu usaha kita bisa lebih maju,” ujar peraih beasiswa kursus di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo itu.

Di hari kedua, Vira memberi materi praktik membuat jahitan kemeja dan gaun kasual. Dia memberikan tips membuat pola dasar, teknik pecah pola, teknik memotong bahan dan teknik menjahit.

“Materi yang saya ajarkan kurang lebih sama dengan apa yang saya dapat ketika saya ikut pelatihan Pejuang Muda Surabaya. Hanya saja, ketimbang materi teori, di sini saya lebih fokus praktiknya. Karena mereka lebih cepat paham jika diajarkan sambil praktik,” terangnya.

Vira mengatakan, banyak peserta yang tidak sepenuhnya mengenal peralatan yang dibutuhkan dalam proses menjahit. Seperti penggaris lengkung, penggaris tembak, dan kertas pola.

Novita Rahayu Tularkan Ilmu ke Sumenep
foto:ist

“Kebanyakan mereka belum tahu fungsi perangkat yang digunakan dalam proses menjahit. Ini sangat disayangkan. Kalau mereka sudah bisa memanfaatkan peralatan, saya jamin jahitannya lebih bagus,” terangnya.

Menurut Vira, hampir 90 persen peserta pelatihan dapat mengoperasikan mesin jahit. Namun yang membuatnya terkejut, mereka tidak pernah ikut kursus menjahit alias belajar secara otodidak.

“Jadi ya rata-rata jahitannya masih kasar. Kalau mereka dapat pelatihan rutin seperti kita di Surabaya, saya yakin mereka lebih jago lagi,” pungkas, lantas tersenyum. (wh)