November 2017, Inflasi Jawa Timur Sebesar 0,23 Persen

November 2017, Inflasi Jawa Timur Sebesar 0,23 Persen

Pada November 2017, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,23 persen. Dari 8 Kota yang menghitung Inflasi, seluruh kota mengalami inflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep yaitu mencapai 0,57 persen, diikuti Jember 0,34 persen, Banyuwangi 0,33 persen, Probolinggo dan Malang 0,27 persen, Kediri 0,23 persen, Surabaya 0,18 persen, dan Madiun 0,10 persen,” kupas Teguh Pramono, Kepala BPS Jatim, Senin (4/12/2017).

Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi ialah Kelompok Bahan Makanan yang mencapai 0,63 persen, sedangkan kelompok terendah ialah Kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga yang mengalami inflasi sebesar 0,04 persen.

“Komoditas utama yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi di Jawa Timur bulan November 2017 ialah beras, bawang merah, dan telur ayam ras. Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar penghambat inflasi ialah jeruk, daging ayam ras, dan anggur,” jelas dia.

Laju inflasi tahun kalender Jawa Timur pada November 2017 mencapai 3,31 persen, angka ini lebih tinggi dibanding tahun kalender November 2016 yang hanya sebesar 2,16 persen.

Laju inflasi tahun ke tahun (y o y) Jawa Timur pada November 2017 mencapai 3,89 persen, angka ini lebih tinggi dibanding November 2016 yang hanya sebesar 3,02 persen.

Pemantauan perubahan harga selama November 2017 di 8 kota, IHK Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau. Hal ini mendorong terjadinya peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) yaitu dari 128,88 pada Oktober 2017menjadi 129,18 pada November 2017. Pola perubahan harga padaNovember 2017 tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mengalami inflasi.

“Kami mencatat, sepanjang tahun 2008 sampai dengan 2017 selalu terjadi inflasi di Bulan November, kecuali di tahun 2008 yang mengalami deflasi. Bulan November 2014 merupakan inflasi tertinggi, yaitu sebesar 1,38 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi pada bulan November 2009 sebesar 0,04 persen,” tegasnya.

Pada November 2017, dari tujuh kelompok pengeluaran, seluruhnya mengalami inflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi ialah kelompok Bahan Makanan yang mencapai 0,63 persen, kelompok Kesehatan sebesar 0,26 persen, kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau sebesar 0,24 persen, kelompok Sandang sebesar 0,18 persen, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,08 persen.

“Sedangkan untuk kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,05 persen, dan kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga sebesar 0,04 persen,” tandasnya. (wh)