Nilai Tukar Petani Jatim Turun 0,22 persen

Nilai Tukar Petani Jatim Turun 0,22 persen
foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) bulan Januari 2016, Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur turun  0,22 persen dari 106,13 menjadi 105,90. Penurunan  NTP ini disebabkan kenaikan indeks harga yang dibayar  petani (Ib) lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang diterima petani (It).

Hal tersebut disampaikan oleh M Sairi Hasbullah MA, ketika di kantornya di Jalan Kendangsari Surabaya, Senin (1/2/2016).

Kata dia, pada Januari 2016, dua sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP dan sisanya mengalami penurunan. Kenaikan NTP terbesar terjadi pada sub sektor  Hortikultura sebesar 0,66 persen dari 103,92 menjadi 104,60 dan sub sektor Tanaman Pangan sebesar 0,17 persen dari 105,26 menjadi 105,44.

“Sedangkan sub sektor yang mengalami penurunan NTP terbesar, yaitu sub sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,02 persen dari 100,78 menjadi 99,76 diikuti sub sektor peternakan sebesar  0,85 persen dari 111,35 menjadi 110,40 dan sub sektor Perikanan sebesar 0,22 persen dari 105,14 menjadi 104,90,” tuturnya.

Indeks harga yang diterima petani naik 0,85 persen dibanding Desember 2015, yaitu dari 130,53 menjadi 131,63. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani pada semua sub sektor pertanian.

Sub sektor hortikultura mengalami kenaikan terbesar, yaitu 1,66 persen. Diikuti sub sektor tanaman pangan sebesar 1,43 persen, sub sektor perikanan sebesar 0,12 persen, sub sektor peternakan sebesar 0,08 persen, dan sub sektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,04 persen.

Ia mengungkapkan, jika ada sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani pada Januari 2016. “Di antaranya jagung, buah jeruk, ikan tongkol, ikan layang, tomat, kelapa, buah mangga, kakao, bawang merah, dan pisang. Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani adalah nilam, sapi potong, kola atau kubis, buah apel, ikan kuniran, ikan kuwe/bebara, ikan kembung, teri, petai, dan ikan tenggiri,” ulas dia.

Indeks harga yang dibayar petani  mengalami kenaikan sebesar 1,07 persen dari 122,99 pada Desember 2015 menjadi 124,31 pada Januari 2016. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) sebesar 1,44 persen, dan kenaikan indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM)  sebesar 0,30 persen.

Adapun sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan Januari 2016. Yaitu, tomat sayur, bawang merah, cabai rawit, bawang putih, telur ayam ras, upah membersihkan kapal, rokok kretek filter, cabai merah, rokok kretek, dan daging ayam ras.

“Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah solar, bensin, buncis, kacang panjang, ketimun, upah angkut ke TPI, buah salak, gas LPG, benih lele, dan kerupuk,” ungkap dia.

Dari lima provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada Januari 2016, Tiga Provinsi mengalami penurunan NTP dan sisanya mengalami kenaikan. “Penurunan NTP terbesar terjadi Banten sebesar 0,78 persen, diikuti Jawa Tengah sebesar 0,50 persen, dan Jawa Timur sebesar 0,22 persen. Sedangkan Kenaikan NTP terbesar terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,58 persen, dan Jawa Barat sebesar 0,27 persen,” tandasnya. (wh)