Nilai tukar Petani Jatim Naik 0,12 Persen

 

Nilai tukar Petani Jatim Naik 0,12 Persen

Nilai Tukar Petani (NTP) Jatim pada Mei 2014 naik 0,12 persen dari 104,19 menjadi 104,32. Kenaikan NTP ini disebabkan kenaikan indeks harga yang diterima  petani (It) lebih besar dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib).

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur M Sairi Hasbullah, pada Mei 2014, dua sub sektor pertanian mengalami kenaikan NTP sedangkan tiga sub sektor mengalami penurunan.

“Kenaikan NTP terbesar terjadi pada Sub Sektor tanaman hortikultura 1,58 persen dari 103,96 menjadi 105,60 dan tanaman perkebunan rakyat 1,11 persen dari 103,70 menjadi 104,85,” katanya kepada wartawan di kantornya Jl Kendangsari Industri, Surabaya, Selasa (8/7/2014).

Sedangkan sub sektor yang mengalami penurunan NTP  yaitu peternakan 0,59 persen dari 110,81 menjadi 110,16 diikuti  tanaman pangan 0,51 persen dari 98,61 menjadi 98,10 dan sub sektor  perikanan 0,15 persen dari 106,60 menjadi 106,45.

Sedangkan Indeks harga yang diterima petani naik 0,50 persen dari 115,15 pada April menjadi 115,73 pada Mei 2014. Kenaikan indeks ini disebabkan oleh naiknya indeks yang diterima petani pada sub sektor tanaman hortikultura diikuti tanaman perkebunan rakyat dan perikanan sedangkan dua pertanian lainnya mengalami penurunan. Sub sektor tanaman hortikultura naik 1,99 persen, tanaman perkebunan rakyat 1,49 persen dan perikanan 0,33 persen.  Sedangkan sub sektor peternakan turun 0,22 persen dan sub sektor tanaman pangan 0,15 persen.

Sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani pada Mei 2014 adalah tomat, apel, kayu nilam, mangga, ikan layang, kopi, ikan rajungan, ikan kuniran, tembakau dan kapuk. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan indeks harga yang diterima petani adalah sapi potong, jeruk, ikan tongkol, udang, cabai merah, gabah, bawang merah, ikan swanggi, ikan kuwe/bebara dan tebu.

Indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan 0,38 persen dari 110,51 pada April menjadi 110,93 pada Mei 2014. Kenaikan indeks ini disebabkan indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi pedesaan) mengalami kenaikan sebesar 0,38 persen dan indeks biaya produksi dan pembentukan barang modal juga naik sebesar 0,36 persen.

Sementara komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani Mei 2014 adalah tomat sayur, telur ayam ras, broiler finisher, daging ayam ras, rokok kretek filter, ikan lemuru, solar, jagung pipilan, pelet dan benih gurami. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan indeks harga yang dibayar petani adalah Cabai merah, beras, cabai rawit, kacang panjang, bawang merah, bekatul, kelapa tua, ikan tongkol, ikan mujair dan dedak.

Dari lima provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada Mei 2014, tiga provinsi mengalami Kenaikan NTP dan dua provinsi lainnya mengalami penurunan. Kenaikan NTP  terbesar terjadi di Provinsi Jawa Barat 0,20 persen diikuti Provinsi Jawa Timur 0,12 persen dan Provinsi Jawa Tengah 0,02 persen. Sementara  Provinsi Banten mengalami penurunan 1,32 persen dan Daerah Istimewa Yogyakarta 0,40 persen. (wh)