Nilai Tambah Usaha Perikanan Naik 4 Kali Lipat

Nilai Tambah Usaha Perikanan Naik 4 Kali Lipat

Edy Sudarto dan Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Sektor perikanan di Indonesia mengalami peningkatan, kurun waktu terakhir. Sejak 2018 sampai 2019, nilai tambah usaha perikanan naik 3-4 kali lipat. Hal ini menunjukkan jika jumlah dan kualitas ikan saat ini mengalami kenaikan signifikan.

Hal ini disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (12/7/2019).

“Jumlah konsumsi ikan juga makin meningkat. Namun peningkatan itu tidak diimbangi ekspor. Terutama komoditas ikan, sampai hari ini di Indonesia masih belum maksimal. China, USA, Jepang dan India masih jadi daftar nama negara tujuan ekspor komoditas non migas kita,” ujar dia.

Pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu lantas menjelaskan, dari total nilai ekspor saat ini, komoditas agri produk dan aqua produk terbilang sangat kecil. Nilainya hanya mencapai dua persen.

“Hari ini memang belum banyak yang melirik bisnis ini. Padahal, bisnis komoditas hasil laut sangat potensial. Seperti komoditas rumput laut. Jika produk ini dimaksimalkan pengolahannya dan di ekspor bisa menjadi lahan baru bagi para pelaku usaha,” papar Kresnayana.

Terkait ekspor komoditas hasil laut, imbuh Kresnayana, sampai saat ini Jawa Timur masih jauh tertinggal dengan Jawa Barat. Padahal, wilayah Jawa Timur punya garis pantai yang lebih panjang dari Jawa Barat.

Kata dia, “awa Barat itu ekspor komoditas hasil lautnya dua kali dari lebih banyak ketimbang Jawa Timur. Jadi masih banyak potensi yang bisa digali. Contohnya daerah Pacitan, Tulungagung dan Banyuwangi, kalau Pelabuhannya sudah bagus.

“Sekarang yang harus dikembangkan adalah akses jalannya, supaya industri pengolahan komoditas hasil laut ini juga terangkat, lebih berkembang dan ekspor ini juga makin meningkat,” tandas dosen statistika ITS itu.

CEO PT Agromina Wicaksana Edy Sudarto menyatakan sangat mendukung kebijakan yang digalakkan pemerintah saat ini. Di antaranya, peraturan illegal fishing dan pengetatan perizinan terkait ekspor.

Menurut dia, peraturan itu bukan malah mempersulit pelaku usaha komoditas hasil laut. “Saya rasa malah membuat komoditas hasil laut makin meningkat nilainya. Untuk pasar luar negeri, komoditas hasil laut asal Indonesia punya kualitas premium. Sebagai penghasil komoditas premium, hal ini adalah langkah yang tepat,” ujarnya.

Edy berharap pemerintah terus mempertahankan segala kebijakan dan capaian yang telah digariskan. “Menteri Perikanan dan Kelautan saat ini telah memperketat peraturan terkait illegal fishing. Jelas hal ini membuat produk perikanan kita makin tinggi nilainya. Nah, kebijakan semacam ini saya harap dapat digalakkan,” pungkas Edy. (wh)