Neraca Pembayaran Indonesia Surplus

 

Neraca Pembayaran Indonesia Surplus

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan kembali surplus setelah membaik pada Triwulan I-2014.  Catatan positif ini ditopang menurunnya defisit transaksi berjalan dan meningkatnya aliran masuk modal asing.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengungkapkan, defisit transaksi berjalan pada triwulan I-2014 diperkirakan tumbuh 2,06 persen dari PDB, turun dari defisit pada triwulan IV-2013 sebesar 2,12 persen dari PDB.

“Penurunan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh kontraksi impor nonmigas sejalan dengan moderasi pertumbuhan ekonomi, meskipun ekspor juga mencatat kontraksi,” jelas dia di Gedung BI, Jakarta, Kamis (8/5/2014).

Perbaikan defisit transaksi berjalan juga dipengaruhi penurunan defisit neraca jasa, khususnya jasa pengangkutan, sejalan dengan menurunnya kegiatan impor. Sementara itu, aliran masuk modal asing baik dalam bentuk investasi langsung maupun investasi portofolio tercatat meningkat didorong sentimen positif terhadap perbaikan fundamental ekonomi Indonesia.

“Aliran masuk modal asing tercatat masih berlanjut pada April 2014. Dengan perkembangan positif pada NPI tersebut pada April 2014. Akibatnya, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD105,6 miliar setara 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah,” jelasnya.

Meski demikian, ke depan BI akan terus memantau beberapa risiko global dan domestik yang dapat mempengaruhi prospek defisit transaksi berjalan dan ketahanan eksternal, termasuk mengenai perkembangan Utang Luar Negeri milik swasta.

“Pada triwulan II dan III 2014, defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat sesuai pola musiman, antara lain akibat peningkatan impor menjelang puasa dan hari raya serta repatriasi pendapatan dan pembayaran bunga, meskipun secara keseluruhan 2014 defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap dapat ditekan di bawah 3 persen dari PDB,” tukas dia. (lp6/ram)