Nasib Petani Garam Terus Tertinggal

Nasib Petani Garam Terus Tertinggal

 

Nasib petani garam terus tertinggal. Di tengah polemik antara lembaga pemerintah terkait dengan pendataan produksi dan swasembada garam konsumsi, perbaikan nasib petani garam masih luput dari perhatian. Tidak ada kebijakan yang berpihak kepada petani.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, akhir pekan lalu, mengungkapkan, garam merupakan komoditas sangat strategis. Namun, nasib petani garam terimpit persoalan produksi, distribusi, dan teknologi akibat kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani.

Kekacauan kebijakan tata niaga garam terus memukul harga garam petani. Hingga kini, harga patokan pemerintah (HPP) tidak terlaksana di lapangan. Harga garam petani terus ditekan oleh pengepul. Perdagangan garam yang disinyalir dikuasai oleh kartel membuat petani tak berdaya dalam menentukan harga jual. Akibatnya, produktivitas rendah.

Di tengah produktivitas yang rendah dan minimnya perhatian pemerintah untuk meningkatkan teknologi, petani harus bertarung dengan perusahaan berteknologi tinggi dan arus impor garam.

Sementara itu, PT Garam sebagai satu-satunya BUMN bidang garam cenderung menjadi kompetitor bagi petani dalam memproduksi garam konsumsi. Ia menilai, PT Garam yang menguasai lahan dan kelengkapan teknologi seharusnya fokus memproduksi garam industri dengan kualitas tinggi.

Surplus

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo di Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengatakan, surplus garam konsumsi nantinya akan diarahkan untuk bisa menyuplai garam industri. Upaya ini dilakukan dengan meningkatkan kualitas produksi garam rakyat dengan revitalisasi dan intensifikasi program peningkatan usaha garam rakyat (PUGAR).

”Dengan program PUGAR, sejak tahun 2012, kita tidak lagi mengimpor garam konsumsi. Dengan surplus garam konsumsi ini, diharapkan kadar NaCl bisa ditingkatkan dari saat ini 95-95 persen menjadi 98-99 persen. Dengan demikian, garam konsumsi ini nantinya bisa untuk menyuplai garam industri,” tutur Sharif, Minggu (16/3/2014).

Sementara itu, Kementerian Perindustrian memiliki inovasi teknologi produksi garam yang menghasilkan garam berkualitas untuk standar garam konsumsi. (kps/bh)