Tahukah Anda, Dimana NASA Bakal Ciptakan Titik Terdingin di Semesta?

Tahukah Anda, Dimana NASA Bakal Ciptakan Titik Terdingin di Semesta?

NASA tengah menggunakan International Space Station (ISS atau Stasiun Antariksa Internasional) untuk menciptakan tempat terdingin di alam semesta. Seperti dikutip dari laman Wired.co.uk, hal itu bertujuan untuk melakukan percobaan fisika kuantum yang sebelumnya tak mungkin dilakukan.

Laboratorium gaya gravitasi mikro NASA, Cold Atom Lab (CAL) dijadwalkan untuk peluncuran tahun 2016 dan organisasi Physical Science Research Program (Program Penelitian Ilmu Fisika) akan mendanai tujuh proposal untuk melakukan penelitian fisika menggunakan ilmu tersebut. Beberapa proposal—termasuk percobaan yang akan dilakukan di CAL di tanah dan lain-lain—akan terjadi setelah para astronot menginstal CAL pada ISS.

Tujuannya ialah mendorong turun suhu yang efektif dalam laboratorium hingga 100 picokelvins, 1/10 miliar derajat di atas nol mutlak. Itu adalah suhu yang serendah mungkin. 100 derajat picokelvin merupakan suhu yang sangat rendah, sehingga bila dikonversi ke satuan Fahrenheit, ia tak dapat dibedakan dari suhu nol mutlak. Artinya, diukur -459,67 derajat farenheit. Sebagai perbandingan, Large Hadron Collider dapat didinginkan sampai 1,9 derajat Kelvin, yang setara dengan -456 derajat Fahrenheit.

Ruang angkasa jelas jauh lebih dingin daripada suhu di dalam atmosfer bumi. Suhunya secara rutin turun sampai -454 derajat Fahrenheit. Tetapi itu akibat gaya gravitasi mikro yang membuat ISS sebagai tempat terbaik untuk melakukan penelitian ini. Di tanah, gravitasi dapat mengganggu proses pendinginan, sehingga suhu yang sangat rendah tak bisa dicapai.

Ketika suhu terjun sampai 100 picokelvins, konsep yang biasanya terjadi pada benda padat, cair dan gas, tidak ada lagi. Ini berarti atom mampu menciptakan bentuk-bentuk baru dari materi, yang dapat berperilaku, baik sebagai partikel dan gelombang.

Karena suhu ini tidak pernah digunakan untuk eksperimen sebelumnya, tak ada yang tahu persis apa yang diharapkan. Dan semuanya hanya soal probabilitas . “Kita tengah memasuki sesuatu yang tidak kita ketahui,” kata NASA Jet Propulsion Laboratory, Rob Thompson. Meskipun tidak mungkin untuk memprediksi, para peneliti di Jet Propulsion Laboratory berharap ini mungkin dapat mengantarkan pada penemuan fenomena kuantum baru. Tim yakin jika mereka mungkin dapat merakit paket gelombang selebar rambut manusia.

NASA telah menyiapkan dana USD 12.700.000 untuk eksperimen menggunakan CAL selama empat sampai lima tahun. Dari tujuh proposal yang dipilih, dua proposal yang menggunakan CAL sementara yang masih berada di Bumi untuk membantu merencanakan percobaan penerbangan di masa depan. Sedangkan lima lainnya akan melibatkan percobaan penerbangan di atas kapal stasiun ruang angkasa, berikut beberapa penelitian berbasis darat.