NASA Buka Perusahaan Tambang di Bulan

NASA Buka Perusahaan Tambang di Bulan

Impian besar tengah dirancang   Badan Antariksa Amerika  Serikat, NASA. Sukses menjadi pioneer mengirimkan astronot ke Bulan, kali ini NASA merancang proyek  yang tak kalah ambisius; menambang material bernilai tinggi di  planet bumi tersebut. Wow.

Ini tak sekadar terori. NASA bahkan sudah melangkah jauh untuk  itu. Hanya saja, sejauh ini dana  yang menjadi kendala utama.  Dikabarkan The Verge, Senin 10 Febuari 2014, NASA bahkan harus sepintar mungkin menempuh alternatif lain untuk menghemat anggaran penambangan di Bulan.

Untuk itu, NASA membuka kesempatan bagi perusahaan-perusahaan swasta untuk bergabung dalam eksplorasi sumber daya bernilai di Bulan, misalnya helium 3 maupun material metal Bumi langka.  Sejauh ini, sudah masuk pengajuan kerja sama dari program Lunar Cargo Transportation and Landing by Soft Touchdown (Lunar CATALYST).

Menurut NASA, bermitra dengan perusahaan antariksa privat merupakan langkah pertama eksplorasi sumber daya berharga di Bulan.  Kolaborasi antarbadan antariksa itu disebutkan tak memerlukan klausul pertukaran dana sesuai aturan UU Antariksa dan Penerbangan Nasional AS. Artinya, pemerintah tidak akan secara langsung mendanai eksplorasi itu. Namun, NASA tetap didukung penuh pemerintah AS.

Pengajuan kolaboarasi ini paling lambat 17 Maret 2014, tapi masih belum jelas apakah pada tenggat itu NASA akan mengumumkan badan antariksa swasta yang berhak berkolaborasi dengannya.

Iniasitif kolaborasi ini terpaksa ditempuh NASA mengingat badan pemerintah AS itu tak punya dana berlimpah. Bahkan, NASA sempat menggelar kampanye pendanaan untuk menunjang misi penemuan algoritma asteroid. Kampanye ini diluncurkan dengan melibatkan Planetary Resources, perusahaan miliuner penambangan asteroid swasta.

Selain masalah anggaran, misi ini juga masih terbentur persoalan kepemilikan Bulan.
Berdasarkan Pakta Antariksa Luar PBB Tahun 1967, negara-negara di dunia dilarang untuk mengklaim sebagai pemilik Bulan. Namun demikian, misi penambangan Bulan, yang mulai melibatkan badan antariksa swasta itu, telah memicu debat kepemilikan Bulan. “Ada kasus serius untuk pengembangan hukum internasional pada area ini. Sebab Pakta 1967 itu tak mempertimbangkan seseorang (swasta) selain negara yang mampu mengeksplorasi Bulan,” jelas Ian Crawford, Profesor Sains Antariksa, Birkbeck College, Universitas London.

“Jelaslah hal itu kini menjadi tantangan bagi pengembangan pakta antariksa luar sampai badan swasta yang mungkin berharap boleh mengeksploitasi Bulan,” tutur Crawford. (ram)